Motor listrik bukan cuma soal bebas antre di SPBU. Bagi pengemudi ojol (ojek online), ada hitung-hitungan lain yang tak kalah penting: jarak tempuh, waktu ngecas, sampai biaya baterai.
Edward Rudy Suryono, 59 tahun, sudah merasakan semuanya. Tak lama setelah pensiun dari perusahaan farmasi pada 2023, ia membeli Polytron Fox-R dan mulai serius menjadi pengemudi ojol.
"Di rumah sebenarnya ada Vario dan Scoopy. Tapi untuk ngojol, hitungannya ini lebih efisien," kata Rudy saat mengantar detikOto dari Beji ke Griya Depok Asri, Jumat sore (11/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama 31 tahun, Rudy bekerja di Tempo Scan Pacific di kawasan Jl Rasuna Said, Kuningan. Sebelumnya, ia bekerja di pengeboran minyak lepas pantai selama empat tahun, 1987-1991.
Untuk bekerja sebagai ojol, Rudy memilih Fox-R. Motor ini dibekali motor listrik 3.000 watt dan baterai sekitar 3,7 kWh. Polytron mengklaim jarak tempuhnya hingga 130 kilometer, dengan kecepatan maksimal sekitar 95 km/jam. Pengisian baterai dari kosong hingga penuh sekitar lima jam.
Namun Rudy punya ukuran sendiri. Kalau jarak tempuh sudah menyentuh 100 kilometer, ia memilih pulang untuk mengisi daya. Ia tak mau mengambil risiko kehabisan baterai di jalan. "Ngecas full butuh empat jam," ujarnya.
Di sinilah perbedaan paling terasa dibandingkan motor bensin. Mengisi bensin hanya membutuhkan beberapa menit. Motor listrik perlu waktu berjam-jam untuk kembali siap digunakan.
Tetapi untuk urusan biaya energi, motor listrik punya keunggulan. Dengan kapasitas baterai sekitar 3,7 kWh dan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp 1.445 per kWh, secara teoritis satu kali pengisian penuh membutuhkan biaya sekitar Rp 5.300.
Jika energi yang sama diisi melalui SPKLU dengan tarif sekitar Rp 2.500 per kWh, biayanya sekitar Rp 9.250. Jadi, selisih tarifnya memang sekitar Rp1.000 per kWh. Untuk satu baterai Fox-R, selisih biaya pengisian penuh menjadi sekitar Rp 4.000.
Ojol listrik Foto: Sudrajat |
Bagi pengemudi yang setiap hari menempuh puluhan kilometer, hitungan tersebut tentu menarik. Apalagi pengisian di rumah bisa dilakukan sambil beristirahat tanpa harus mampir ke SPBU.
Namun Rudy tetap punya biaya rutin lain. Ia menggunakan skema sewa baterai sekitar Rp 200 ribu per bulan. Menurut dia skema tersebut membuatnya lebih tenang jika baterai bermasalah. "Kalau baterai rusak atau soak kan tinggal minta ganti ke dealer," katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Farhen Perdiansyah, pengemudi ojol yang juga menggunakan Fox-R. Ia memilih Fox-R bukan semata karena biaya listrik. Ia tertarik karena ruang di antara kemudi dan jok cukup lega untuk membawa barang.
"Jangankan air mineral kemasan galon, koper pun masih muat. Makanya saya pilih yang ini. Kapasitasnya lumayan besar buat bawa barang," ujarnya kepada detikOto beberapa waktu lalu.
Farhen sudah menjadi pengemudi ojol sejak 2017. Empat tahun pertama, ojol hanya menjadi pekerjaan sambilan. Aplikasi baru diaktifkan ketika ia sedang menuju tempat kerja atau dalam perjalanan pulang.
Pekerjaan utamanya saat itu adalah teknisi di salah satu vendor Telkomsel. Pandemi kemudian mengubah semuanya.
"Beberapa bulan setelah Covid, vendor tempat saya kerja oleng, ambruk. Saya sama teman-teman dirumahin. Untung saya sudah biasa ngojol. Eh, keterusan sampai sekarang," tuturnya.
Dengan ijazah SMA, Farhen mengaku tidak selalu mudah mendapatkan pekerjaan baru. Persyaratan administrasi dan faktor usia kerap menjadi ganjalan ketika ia mencoba melamar pekerjaan. Akhirnya, jalanan menjadi tempatnya mencari nafkah.
Sejak tahun lalu, Farhen mengganti motor bensinnya dengan motor listrik. Ia juga memilih skema sewa baterai Rp200 ribu per bulan.
Bagi Farhen, keuntungan paling terasa justru sebelum berangkat bekerja. "Dengan pakai ini saya keluar rumah tongpes, nol rupiah, juga pede," ujarnya.
"Kalau waktu masih pakai motor biasa, minimal ngantongin Rp 20 ribu dulu buat Pertalite," imbuhnya.
Dua pengalaman itu menunjukkan alasan yang berbeda ketika ojol memilih motor listrik. Rudy lebih menyoroti efisiensi dan biaya operasional. Farhen melihat kepraktisan membawa barang sekaligus penghematan uang bensin sebelum mulai bekerja.
Kelemahan lain dari Fox R, menurut Rudy, setelah sekitar enam bulan digunakan, kenyamanan suspensinya mulai berkurang. Waktu pengisian baterai juga harus masuk dalam perhitungan kerja.
Fox-R mulai dipasarkan pada 2023. Saat itu harga OTR Jabodetabek sekitar Rp 20,5 juta. Setelah mendapat subsidi pemerintah Rp 7 juta, harganya menjadi sekitar Rp 13,5 juta.
Di luar urusan biaya dan jarak tempuh, Rudy punya satu alasan lain untuk menyukai Fox-R: fiturnya. Setelah menurunkan saya, ia memperagakan tombol reverse. Masih duduk di atas jok, Rudy menekan tombol tersebut. Motor bergerak perlahan ke belakang.
Tak lama kemudian ia kembali melaju. Kali ini tangannya dilepaskan dari tuas gas. Motor tetap bergerak dengan kecepatan konstan. "Saya setel 25 kilometer per jam," ujarnya. Cruise control rupanya sudah diaktifkan.
Saya pun menggoda Rudy. Dengan caranya menjelaskan fitur-fitur Fox-R, ia sebenarnya lumayan juga menjadi sales motor listrik.
Rudy tertawa. Setelah itu, ia kembali memacu motornya untuk menjemput penumpang berikutnya.
Bagi Rudy dan Farhen, motor listrik bukan sekadar soal mengikuti tren kendaraan baru. Mereka menggunakannya untuk bekerja dan menghitung sendiri untung-ruginya di jalan.











































