Cerita Eks Bos Nissan Carlos Ghosn, Ngumpet Dalam Peti saat Kabur dari Jepang

Tim detikcom - detikOto
Rabu, 21 Jul 2021 17:25 WIB
Carlos Ghosn ditangkap aparat Jepang karena melakukan kecurangan finansial. Ini dia sosok pengusaha bertangan dingin yang dijuluki Le Cost Killer di Prancis.
Carlos Ghosn Foto: Reuters/Steve Marcus/File Photo
Jakarta -

Kisah pelarian mantan bos Nissan, Carlos Ghosn kini mulai terungkap satu per satu. Dia kabur dari tahanan rumah dengan bersembunyi di dalam kotak alat musik. Ghosn tak bisa menutup rasa kebahagiaannya saat berhasil mendarat di Beirut, Lebanon.

Dikutip dari BBC, Rabu (21/7) Carlos Ghosn berada dalam kotak atau peti alat musik pada pukul 22.30 di suatu malam pada Desember 2019. Dia nekat meringkuk di dalam peti tersebut selama 30 menit untuk lolos dari jerat hukum.

"Pesawat itu dijadwalkan lepas landas jam 11 malam," kisah Carlos Ghosn.

"Tiga puluh menit menunggu di dalam peti di pesawat, menunggu lepas landas, kemungkinan adalah penantian terlama yang saya alami dalam hidup," sambung dia.

Seperti diketahui Ghosn sempat ditahan pada November 2018 lalu atas tuduhan laporan gaji yang tidak sesuai, dan menyalahgunakan uang perusahaan. Temuan ini didapat dari penyelidikan internal. Dengan alasan ini, Ghosn ditangkap di Jepang dengan tuduhan menyalahi aturan finansial.

Dia sempat ditahan, karena diduga tidak melaporkan gaji sepenuhnya selama lima tahun sampai 2018.

Carlos Ghosn lalu menjadi tahanan rumah dengan beberapa persyaratan yang tidak boleh dilanggar, salah satunya pergi keluar negeri, hingga proses investigasi selesai dan dilanjutkan ke meja hijau.

Seperti yang diketahui, pria berusia 65 tahun ini berhasil pergi ke Lebanon, melarikan diri dari Jepang bulan November 2019. Mantan bos Nissan itu menjadi buronan internasional dan tinggal di tempat ia dibesarkan di Lebanon, negara yang tidak memiliki traktat ekstradisi dengan Jepang.

Carlos Ghosn mengaku Shock dan Trauma

Ghosn mengaku shock dan trauma ketika mengingat penangkapannya di bandara Tokyo tiga tahun lalu.

"Ibarat ditabrak bus atau sesuatu yang benar-benar sangat menimbulkan trauma. Ingatan yang bisa saya tangkap hanyalah syok dan trauma," ujarnya.

Ghosn bercerita ia langsung dibawa ke Pusat Tahanan Tokyo, dan begitu sampai langsung diberi seragam dan dikurung dalam sel.

"Tiba-tiba saya harus hidup tanpa jam, tanpa komputer, tanpa telepon, tanpa berita, tanpa pena - tidak ada apapun," ujarnya.

Lebih dari setahun Ghosn menghabiskan waktu di tahanan dan kemudian berstatus tahanan rumah di Tokyo setelah membayar jaminan.

Tidak jelas saat itu kapan dia diadili - khawatir bakal menunggu bertahun-tahun -, Ghosn akan menghadapi ancaman hukuman penjara 15 tahun bila terbukti bersalah, di negara yang tingkat pemindanaannya 99,4%.

Selama menjadi tahanan rumah, Ghosn juga tidak diizinkan berkontak dengan istrinya, Carole, sehingga dia berupaya mencari jalan keluar.

Memilih kotak alat musik

Carlos Ghosn mengungkapkan alasannya memilih peti pengangkut alat musik untuk kabur dari Jepang.

"Rencananya saya harus tidak ketahuan, saya sehingga saya harus bersembunyi di suatu tempat," tutur Ghosn.

"Dan satu-satunya cara saya bisa disembunyikan ialah berada di dalam kotak atau di bagasi sehingga tidak ada yang bisa melihat saya, mengenali saya, dan rencananya bisa berhasil."

Ghosn mengatakan ide menggunakan kotak alat musik ialah yang paling masuk akal. "Paling logis, terutama saat ini ada banyak konser di Jepang," terang dia.



Tak hanya sekedar kabur, Ghosn juga mengatur bagaimana caranya sebagai sosok yang terkenal bisa pergi dari rumahnya ke bandara, dan melarikan diri tanpa ketahuan. Siasatnya, kata Ghosn, bersikap senormal mungkin.

Mr Ghosn harus menukar setelan jas yang ia kenakan selama bertahun-tahun sebagai eksekutif terkemuka di sektor otomotif global untuk sesuatu yang sedikit lebih kasual.

"Anda bisa membayangkan saya harus pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, membeli pakaian yang belum pernah saya beli," katanya.

"Semua ini adalah bagian dari bagaimana Anda memberi diri Anda kesempatan maksimal untuk sukses dan sama sekali tidak menarik perhatian pada diri sendiri," sambung dia.

Hari yang ditunggu Carlos Ghosn

Pelarian Ghosn sudah terencana dengan matang. Ghosn melakukan perjalanan dengan kereta cepat ke Osaka di mana sebuah jet pribadi Bombardier TC-TSR sedang menunggu di bandara setempat.

Ghosn masuk ke dalam kotak musik, yang dibawa oleh dua pria asal AS yaitu Michael dan Peter Taylor yang menyamar sebagai musisi saat meninggalkan hotel dekat Kansai International Airport. Kedua orang AS yang membantu Ghosn itu kini tengah diadili di pengadilan Jepang.

Secara keseluruhan, Ghosn merasa di dalam kotak selama sekitar satu setengah jam, meskipun Ghosn mengatakan berasa seperti satu setengah tahun.

"Ketika Anda masuk ke dalam kotak, Anda tidak memikirkan masa lalu, Anda tidak memikirkan masa depan, Anda hanya memikirkan saat ini," katanya.

"Tidak takut, dan tidak memiliki emosi apa pun kecuali konsentrasi besar pada 'ini adalah kesempatanmu, kamu tidak dapat melewatkannya. Jika kamu melewatkannya, kamu akan membayar dengan nyawamu, menjadi tahanan di Jepang," kata Ghosn.

Carlos Ghosn berhasil mendarat di Beirut. Kini dia bebas tinggal di sana, sebab Lebanon merupakan negara yang tidak memiliki traktat ekstradisi dengan Jepang.

Bagaimana kata Ghosn tentang orang-orang yang telah membantunya kabur yang kini menjalani persidangan? termasuk Gregg Kelly, mantan koleganya yang dituduh membantu Ghosn menggelapkan pendapatannya.

"Saya diberitahu bahwa tahap akhir sidang pengadilan [Kelly] kemungkinan besar akhir tahun ini. Dan hanya Tuhan yang tahu apa hasilnya nanti atas kasus, yang seperti saya bilang, dibuat-buat," ujar Ghosn.

"Saya menyesali semua pihak yang menjadi korban penyanderaan sistem hukum di Jepang, mereka semua," tambah dia.



Simak Video "Tes Lengkap Nissan Leaf, Mobil Listrik Termurah di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)