Mantan Bos Nissan Masih Buron, Tentara Veteran Menyesal Sudah Bantuin Kabur

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 30 Jun 2021 18:09 WIB
Bagaimana bapak dan anak membantu bos Nissan, Carlos Ghosn melarikan dari Jepang dalam koper
Carlos Ghosn dibantu kabur oleh bapak dan anak asal Amerika Serikat Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Veteran Pasukan Khusus Angkatan Darat AS Michael Taylor menyesal telah membantu Carlos Ghosn melarikan diri dari Jepang. Saat Carlos Ghosn masih buron, dia bersama putranya, Peter Taylor kini sedang menjalani pengadilan di Tokyo.

"Saya sangat menyesali tindakan saya dan dengan tulus meminta maaf karena menyebabkan kesulitan bagi proses peradilan dan bagi orang-orang Jepang. Saya minta maaf," kata Michael Taylor sembari membungkuk seperti dikutip dari Autohindustantimes, Rabu (30/6/2021).

Aksi kabur Carlos Ghosn layaknya aksi di film-film Hollywood. Dia bisa keluar dari Jepang setelah bersembunyi di tas alat musik milik sebuah kelompok musik Gregorian. Ghosn bisa kabur dari Jepang selain berkat bantuan kelompok musik tadi juga berkat bantuan anggota pasukan khusus.

Ghosn kemudian dibawa ke sebuah airport kecil di mana sudah menanti pesawat jet Bombardier yang membawa terbang ke Beirut.

Sementara putranya, Peter Taylor yang diduga bertemu dengan Ghosn untuk merencanakan pelarian juga meminta maaf di pengadilan atas masalah yang ditimbulkannya.

"Saya harus minta maaf kepada orang-orang Jepang,"kata Peter Taylor.

"Setelah lebih dari 400 hari di penjara, saya punya banyak waktu untuk merenung. Saya bertanggung jawab penuh dan meminta maaf sedalam-dalamnya. Saya minta maaf," katanya.

Di sisi lain Michael Taylor, mantan pasukan Baret Hijau ini merasa sudah ditipu oleh Carlos Ghosn. Kepada Jaksa, dia mengaku telah diberi informasi yang salah oleh Ghosn dan istrinya, Carole Ghosn. Carole Ghosn memberi tahu Taylor bahwa suaminya dianiaya, disiksa, dan dimasukan ke sel isolasi.

Jaksa penuntut menuduh dua pria itu mengorganisir pelarian Ghosn ke Lebanon dari Bandara Kansai pada Desember 2019 dan menerima US$1,3 juta (sekitar Rp18,5 miliar dengan kurs saat ini) atas bantuan mereka. Jika terbukti membantu pelarian Ghosn, keluarga Taylor menghadapi hukuman tiga tahun penjara. Sementara Ghosn saat ini masih buron, dan hidup bebas di Lebanon.

Pada November 2018, Nissan - produsen mobil terbesar keenam dunia, melaporkan mereka menemukan bahwa Ghosn melaporkan gajinya lebih rendah kepada pemerintah. Temuan ini didapat dari penyelidikan internal. Dengan alasan ini, Ghosn ditangkap di Jepang dengan tuduhan "menyalahi aturan finansial. Dia sempat ditahan, karena diduga tidak melaporkan gaji sepenuhnya selama lima tahun sampai 2018.

Carlos Ghosn lalu bebas dengan beberapa persyaratan yang tidak boleh dilanggar salah satunya pergi keluar negeri, hingga proses investigasi selesai dan dilanjutkan ke meja hijau.

Seperti yang diketahui, pria berusia 65 tahun ini pergi ke Lebanon, melarikan diri dari Jepang bulan 2019. Mantan bos Nissan itu menjadi buronan internasional dan tinggal di tempat ia dibesarkan di Lebanon, negara yang tidak memiliki traktat ekstradisi dengan Jepang.

Carlos Ghosn melarikan diri ke Libanon lantaran dirinya tidak mendapatkan keadilan di Jepang. Ghosn sempat mengatakan bahwa tuduhan atas kejahatan keuangan yang dilayangkan pada dirinya merupakan hasil skenario penjebakan para eksekutif Nissan, jaksa penuntut Jepang, dan pejabat pemerintah yang menentang rencananya menggabungkan Renault dan Nissan.



Simak Video "Tes Lengkap Nissan Leaf, Mobil Listrik Termurah di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)