Meniti Kemacetan Jakarta dengan Vespa Sprint 150

Ototes

Meniti Kemacetan Jakarta dengan Vespa Sprint 150

- detikOto
Jumat, 03 Okt 2014 15:05 WIB
Meniti Kemacetan Jakarta dengan Vespa Sprint 150
aditya - detikOto
Jakarta -

Hari Minggu keramahan jalanan Jakarta sebagai ibu kota negara baru terasa. Volume lalu lintas yang tak begitu ramai dengan embusan angin sepoi-sepoi, menjadikan saya betah menyusuri jalanan.

Ya. Hari Ahad pekan lalu, saya berniat menjajal kenyamanan dan ketangguhan generasi terbaru dari salah satu keluarga Vespa, yakni Vespa Sprint 150. Pilihan hari Ahad, karena ingin membuktikan seberapa andal skuter asal Italia itu.

"Jalanan lengang kita bisa nggeber skuter ini bro. Seberapa nyaman sih?," jawab saya ketika seorang teman sekantor bertanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, uji ketangguhan dan kenyaman tak hanya pada hari libur saja, tetapi juga pada saat hari kerja, yakni Senin dan Selasa. Saat berangkat dari rumah saya sengaja memilih jalur padat merayap – di saat pagi – yakni Cipondoh - Ciledug – Petukangan – Kebayoran Baru – Mampang – Warung Buncit.

Begitu pun saat pulang, sengaja saya pilih jalur padat dan tepat saat jam pulang kerja, 17.00 WIB. Rute yang saya pilih adalah, Warung Buncit – Mampang – Jalan Gatot Subroto – Slipi – Grogol – Daan Mogot – Kalideres – Cipondoh Tangerang.

Dua kondisi itu saya pilih untuk membuktikan, apakah Vespa Sprint yang diposisikan sebagai kendaraan kaum urban berusia muda dengan mobilitas tinggi, benar-benar tepat. Kedua, apakah skuter hasil metamorfosis Vespa Sprint yang mulai dikenal di dekade 90-an itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan gaya kaum urban?

"Secara desain, Sprint 150 baru, ini sudah menjawab keinginan dan kebutuhan kaum muda urban. Apalagi brand, Vespa sudah jaminan," ujar Endra Yogatama, salah seorang penggiat komunitas Vespa saat saya temui di sebuah toko convenience di kawasan Kemang Timur, kemarin malam.
Apakah penilaian Endra benar adanya? Apakah perkiraan saya benar? Berikut hasil uji jalan yang saya lakukan.

1. Performa mesin

arif - detikOto
Harus jujur sayaΒ  akui, saat pertama kaliΒ  ditawari untuk melakukan tes ride skuter ini, saya sedikitΒ  ragu denganΒ  kelincahan dan tingkat responsifitasnya. Maklum dengan bodi yang cukup besar – meskiΒ  lebih ramping ketimbang pendahulunya -Β  akan sulit bermanuver. Meski mesinnya 150 cc lebih.

Tapi, penilaian itu sirnaΒ  saat saya telah melakukannya. Semburan tenaga dari mesin 154,8 cc, 4-tak, SOHC 3 klep plus teknologi injeksi bahan bakar,Β  menjadikannya responsif. Dengan sedikit menarik tuas gas, langsung melaju.

Saat jalan Gatot Subroto hingga GrogolΒ  lengang saya langsung tancap gas. Sprint dari kecepatan 20 kilometerΒ  per jam ke kecepatan 80 kilometer per jamΒ  tercapai dalam hitungan detik.

Uji kelincahan dan responsifitas saya lakukan pada keesokkan harinya – Senin – di saat jalanan macet. Kondisi jalan yang stop andΒ  go, tak masalah. Dengan sedikit tarik tuas gas, skuter langsung jalan tanpa mengejan atauΒ  menyendat. Maklum, pada saat putaran mesin rendah tenagaΒ  yang disemburkan mesinΒ  cukup besar.

Walhasil sepanjang jalur Ciledug – Mampang yang padat merayap saat jam berangkat kerja menjadi tak terasa menjemukan. Saya bisa meliuk-liuk skuter ini dengan mudah.

2. Sistem Suspensi

arif - detikOto
Saya bukanlah penggemar skuter Vespa, meski beberapa kali diajakΒ  teman atau kerabat menunggangi skuter ini. Saat itu ada yang ada di benak saya, skuter ini memiliki getaran yang cukup terasa, sehingga suspensinya pun terpengaruh saat diajak jalan pelan.

Namun,Β  stigma negative suspensi Vespa yang menggelayut di benak saya itu, kiniΒ  berangsur memudar. Suspensi terasa empuk. Memang sih, untuk jalanan berbatu atau berlubang entakan masih cukup keras.

Yang pasti, teknologi dual-bracket suspension link yang dipadu teknologi Enchanced Sliding Suspension ternyata cukup ampuh meredamΒ  getaran mesin, terutama di saat skuter melaju cukup kencang.

3. Posisi duduk

arif - detikOto
Meski ketinggian jok dari tanah terbilang cukup tinggi, 790 milimete, namun bagi pengendara seperti saya yang berpostur rata-rata orang Indonesia, 163 centimeter, tak jadi soal. Meski, pada saat berhenti di lampu merah harus ekstra hati-hati dengan sedikit jinjit.

Yang pasti, pada saat skuter melaju, posisi duduk cukup nyaman. Terlebih bagi mereka yang bertinggi badan di atasΒ  170 centimeter. β€œSangat nyaman dan bisa mengatur gaya berkendara sesuai kebutuhan,” ujar Adit, teman saya.

Kenyaman posisi duduk juga tak lepas dari pelek dan ban yang digunakan. Pelek dengan belasan palang berdiameter 12 inciΒ  plus ban 110/70 dan 120/70 yang menopang stabilitas skuter di saat melaju.

4. Pencahayaan dan Spidometer yang memudahkan

Kelebihan lainnya dari Vespa Sprint generasi anyar ini adalah sistem pencahayaan. Bentuk lampu depan yang seperti pendahulunya, yakni kotak, dengan bohlam yang cukup tajam tetapi tidak menyilaukan, menjadikan pencahayaan sangat optimal di malam hari.

Terlebih terdapat panel pengatur tingkat ketajaman lampu. Begitu pun dengan lampu sein yang diletakkan pada bagian bodi depan maupun belakang, cukup mudah terlihat oleh pengguna jalan lain baik dari depan maupun belakang.

5. Konsumsi bahan bakar

Harus diakui, uji jalan yang saya lakukan tidaklah cukup kuat untuk dijadikan rujukan apalagi klaim secara pasti tentang tingkat konsumsi bahan bakar.

Pertama, karena alat ukur yang hany berdasar angka di cluster meter atau di spidometer. Kedua, untuk melakukan tes secara sahih dan terpercaya harus dilakukan secara berulang, di berbagai kondisi, dan alat ukur yang cukup representative terpercaya.

Namun sebagai gambaran umum, selama uji jalan dengan rute yang saya sebut di atas berjarak kurang lebih 135 kilometer. Saya mengisi bahan bakar sebanyak tiga liter di saat bahan di tangki tersisa 0,5 liter, sehingga total bahan bakar yang ada 3,5 liter.

Dengan jarak yang telah saya tempuh, kesimpulan saya, tingkat konsumsi bahan bakar skuter ini 1 : 38,6 kilometer.

6. Kekurangan

Penilaian atas kekurangan ini tentu sangatlah subyektif. Namun setelah saya lakukan secara berulang, termasuk dengan menggunakan alat bantu, yakni sarung tangan, handel gas (pegangan di setang) terasa keras.

Bagian lain yang kerap menjadi masalah adalah, posisi spion yang cukup melebar. Sehingga ketika berpapasan di jalan sempit atau meliuk-liuk di lorong kemcetan, spion skuter sering beradu dengan spion mobil atau motor lain.
Halaman 2 dari 7
(arf/ady)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads