ADVERTISEMENT

Superbike Nggak Ada Apa-apanya, Mengendarai Motor MotoGP Butuh Skill Tinggi

Luthfi Anshori - detikOto
Minggu, 10 Jul 2022 14:20 WIB
BARCELONA, SPAIN - JUNE 05: Fabio Quartararo of France and Monster Energy Yamaha MotoGP at Circuit de Barcelona-Catalunya on June 05, 2022 in Barcelona, Spain. (Photo by Eric Alonso/Getty Images)
Mengendarai motor MotoGP butuh skill tingkat tinggi. Foto: Getty Images/Eric Alonso
Jakarta -

MotoGP menjadi ajang balap motor kasta tertinggi yang masih terus diselenggarakan hingga saat ini. MotoGP menjadi ajang unjuk gigi para pabrikan motor dunia untuk menampilkan kemajuan teknologi dan kemampuan dalam mengembangkan mesin berperforma tinggi. Maka itu, pebalap yang ada di MotoGP pun tak bisa sembarangan, mereka harus punya skill tinggi untuk memacu motor balap prototipe tersebut.

Seperti diungkapkan mantan juara WorldSBK (WSBK) dua kali dan pebalap MotoGP, James Toseland, balap superbike dan MotoGP memiliki perbedaan cukup besar, terutama dari segi keterampilan para pebalapnya. Para pebalap yang jago dan sering naik podium di WSBK, belum tentu bisa mengulangi prestasi serupa ketika pindah ke balap MotoGP.

"Saya pikir MotoGP adalah kategori khusus yang sangat individual dan punya pebalap khusus, yang mengendarai mesin ini hingga batas mereka. Saya tahu bahwa motor MotoGP memerlukan tingkat keterampilan yang lebih tinggi karena teknologi memungkinkan Anda untuk melaju lebih cepat," kata Toseland dikutip dari laman Crash, Minggu (10/7/2022).

Dengan paket motor yang terus dikembangkan, menurut Toseland, para pebalap MotoGP harus punya kemampuan untuk meriset dan menggunakan motor MotoGP sampai batas maksimal, yang lebih jauh dari motor produksi.

"Untuk datang ke WSBK dan memiliki paket yang tidak terlalu sulit untuk mencapai batasnya akan cukup nyaman untuk pebalap seperti Darryn Binder dan Remy Gardner. Rea, Toprak dan Bautista memiliki pengalaman, Kebanyakan berbicara tentang ban dll," sambungnya.

"Memahami ban adalah kunci terbesar untuk dapat mengendarai paket apa pun hingga batasnya. Dengan dua kejuaraan menggunakan ban yang berbeda, perlu sedikit membiasakan diri dengan itu," lanjut Toseland.

"Saya ingat ketika membalap Biaggi saat dia datang dari GP ke Superbikes pada tahun pertama. Saya membalap di luar dia karena Michelin membutuhkan dua lap untuk pemanasan, tetapi Pirelli mengambil dua tikungan untuk pemanasan," tambahnya.

"Detail kecil inilah yang perlu diketahui setiap pengendara. Jonathan Rea mendorong motornya ke batasan yang sama persis dengan Quartararo di Yamaha. Tapi karena teknologinya sangat bagus di MotoGP sekarang, hampir membantu pengendara untuk bisa mendorong kemampuan motornya sampai batas," bilang Toseland.



Simak Video "Sama Kayak Qatar, MotoGP Mandalika 2023 Rencananya Digelar Akhir Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/riar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT