Selasa, 06 Okt 2020 09:08 WIB

Honda Cabut, Masa Depan F1 Dipertanyakan

Rizki Pratama - detikOto
SCARPERIA, ITALY - SEPTEMBER 13: Valtteri Bottas of Finland driving the (77) Mercedes AMG Petronas F1 Team Mercedes W11 leads the field during the F1 Grand Prix of Tuscany at Mugello Circuit on September 13, 2020 in Scarperia, Italy. (Photo by Claudio Giovannini - Pool/Getty Images) Persaingan F1 semakin sepi setelah ditinggal Honda. Foto: Getty Images/Pool
Jakarta -

Bos baru ajang balap Formula 1, Stefano Domenicali akan mendapat banyak pertanyaan ketika dia mulai aktif bekerja pada Januari 2021 nanti. Pasalnya setelah F1 2021 nanti, hanya akan tersisa tiga pabrikan yang memasok mesin, yakni Ferrari, McLaren, dan Mercedes-Benz.

Honda baru saja mengumumkan tak lagi menjadi kontestan Formula 1 setelah musim depan berakhir. Selain itu tidak ada tanda-tanda akan ada pabrikan mesin lain yang tertarik untuk berkompetisi di sana.

Alasan kepergian Honda tampaknya menjadi pertimbangan pabrikan lain untuk tidak mau ikut campur lagi di F1. Banyak perusahaan otomotif yang mulai fokus ada elektrifikasi dan F1 bukanlah ajang yang tepat untuk membangun citra ramah lingkungan.

"Formula Satu sekarang berisiko menjadi sedikit tidak relevan dengan pabrikan mobil, terutama pabrikan mobil yang belum tertarik pada olahraga, karena dunia kendaraan berubah jauh lebih cepat daripada lima tahun lalu, orang mengira akan demikian," kata mantan kepala mesin Cosworth F1, Mark Gallagher dikutip Reuters.

Mantan eksekutif pemasaran Jaguar dan Red Bull, Jordan mengatakan langkah Honda mengejutkan tapi tidak salah. Hal itu dianggap wajar melihat kondisi pasar dan dunia saat ini.

"Saya pikir langkah Honda, meski mengejutkan, sepenuhnya sesuai dengan apa yang kami lihat terjadi di seluruh dunia," timpalnya

Jika alasannya adalah penggunaan bahan bakar fosil yang masif setiap balapan, maka F1 perlu berpikir keras tentang bagaimana nasib kejuaraan tersebut ke depannya.

"Untuk Formula 1 itu menimbulkan beberapa pertanyaan yang cukup mendasar tentang apa yang akan mereka lakukan selama tiga atau empat tahun mendatang," tambah Jordan.

Di sisi lain, balap mobil listrik Formula E lebih dilirik pabrikan. Terhitung sampai saat ini ada 10 pabrikan, mulai dari Audi, BMW, Mercedes-Benz, Porsche, Jaguar, Nissan, Mahindra, DS, Nio, dan Penske. Selain itu biayanya jauh lebih murah dan Formula E memiliki kesepakatan eksklusif selama 25 tahun sebagai satu-satunya seri kursi tunggal listrik yang diakui FIA.

Pendiri sekaligus bos Formula E, Alejandro Agag mengatakan kepada bahwa meski olahraga balap mobil memiliki masa depan, elektrifikasi adalah tren yang tak terhentikan.

"Hal-hal seperti pandemi COVID sebenarnya telah mempercepat proses itu karena seluruh komunitas bisnis berbicara tentang fakta bahwa dunia pasca-COVID harus menjadi tempat yang lebih hijau," kata Agag.

"Formula Satu menemukan dirinya dalam posisi yang sedikit tidak menyenangkan karena terikat dengan teknologi berbasis bahan bakar fosil pada saat seluruh dunia bergerak ke arah yang berbeda," imbuhnya.



Simak Video "Tampang dan Fitur Baru di Honda CBR250RR"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com