Kenaikan harga oli motor di pasaran dalam beberapa waktu terakhir mulai memicu keluhan. Tidak hanya dari para pengendara, tetapi juga para pelaku usaha kecil.
Keresahan ini dialami pemilik bengkel motor kecil yang merangkap langsung sebagai montir, Sinaga, yang membuka usahanya di pinggir jalan kota Depok.
Dengan manajemen yang masih serba mandiri, Sinaga terpaksa memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan setia akibat harga pelumas yang dinilai sudah "naik gila-gilaan".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan penuturannya, kenaikan harga oli terjadi merata di sejumlah merek populer, baik untuk motor matik maupun manual. Kenaikan per botolnya bervariasi, namun akumulasinya dirasa sangat memberatkan bagi bengkel kelas UMKM.
"(Kenaikan) mulai dari bulan puasa, paling Rp 2 ribu, setelah puasa, naik ada Rp 15 ribu. Sudah gitu naik lagi (harganya)," ujar Sinaga saat ditemui detikOto.
Bagi bengkel "one-man show" seperti Sinaga ini urusannya tidak sesederhana itu. Jika ia menaikkan harga jual oli terlalu tinggi mengikuti modal terbaru, terdapat rasa khawatir pelanggannya bakal kabur ke tempat lain atau menunda jadwal perawatan motor mereka.
"Ya, ngefek ke bengkel pasti ada," kata dia.
Baca juga: Segini Pajak Tahunan Honda Stylo 160 |
Dia mengatakan penuturan dari pihak distributor, harga yang ada saat ini masih berpotensi merangkak naik jika kondisi melemahnya rupiah tak kunjung mereda.
"Ya, iya (kasihan harga makin mahal). Ini aja kata itunya (distributor) belum final. Bisa geser naik lagi, belum pasti lagi harganya," tambah dia.
Lebih lanjut kenaikan harga kali ini terbilang sangat agresif dan merata di berbagai merek oli yang populer, baik lansiran pabrikan lokal, pelumas resmi, hingga merek swasta asing. Kenaikan per botolnya rata-rata langsung melonjak Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.
"Semua lompat naik. Shell sekarang Rp 80 ribu, sebelumnya Rp 60 ribu. Enduro Rp 75 ribu sekarang, sebelumnya Rp 55 ribu," ujar dia.
Lonjakan yang terlalu tinggi ini bahkan membuat Sinaga terpaksa menyetop beberapa stok oli resmi yang biasanya menjadi buruan para pemilik motor matik anyar. Risiko modal mandek menjadi alasan utamanya.
"SPX nggak beli (stok) jadinya. Terlalu tinggi Rp 30 ribuan naiknya. MPX Rp 85 ribu, sebelumnya Rp 60 ribu," ujar dia.
Situasi ini membuat pilihan bagi para pengendara motor berkantong cekak kian menipis. Di bengkel milik Sinaga saat ini, opsi pelumas dengan harga paling miring pun sudah menyentuh angka kepala enam.
"Paling murah, Evalube Rp 60 ribu," jelas dia.
Ilyas, salah seorang montir bengkel di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, mengatakan kenaikan harga oli menjadi yang paling terasa dibandingkan komponen lainnya.
"Mungkin orang mulai ngerem pengeluaran ya, karena kan kita tahu sekarang ekonomi kacau, ditambah harga barang pada naik, paling terasa di oli, naiknya lumayan," kata Ilyas kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di lokasi, Jumat (5/6/2026).
Menurut dia, sekitar tiga hingga empat bulan lalu pelanggan masih bisa mengganti oli beserta jasa pemasangan dengan biaya sekitar Rp60 ribu. Namun kini harga tersebut hanya cukup untuk membeli olinya saja.
"Biasanya ya kayak 3-4 bulan lalu sudah sama jasa, itu cuma Rp60 ribu. Sekarang Rp60 ribu cuma harga beli oli dari tokonya, masa saya beli Rp60 ribu saya jual segitu juga, kan ada biaya jasanya. Jadi sekarang saya patokkan Rp75 ribu," ujarnya.
(riar/rgr)












































Komentar Terbanyak
Dadan soal Motor MBG: Dulu Klaim di Bawah Harga, Ternyata Di-markup
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Jangan Kaget Lihat Harga Pertamax, Sekarang Tembus Rp 16.250/liter