ADVERTISEMENT

Kebanyakan Pengguna Motor Matik Kuat Nanjak tapi 'Nggak Bisa' Turun

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Sabtu, 18 Jun 2022 07:01 WIB
Pemprov Jawa Barat membangun enam titik jalur penyelamatan di Tanjakan Emen. Jalur penyelamat ini dibuat untuk meminimalisasi angka kecelakaan di kawasan itu.
Foto: Motor matik memang kuat nanjak, tapi pengguna motor matik sering mengalami rem blong saat turunan (Yudha Maulana/detikcom)
Jakarta -

Kecelakaan di turunan sering dialami pengguna sepeda motor jenis skuter matik (skutik). Sebab, pengguna skutik biasanya hanya mengandalkan pengereman di roda depan dan belakang, tidak ada bantuan pengereman mesin atau engine brake.

Djoko Setijowarno, pengamat transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat mengatakan, erdasarkan survei Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sepeda motor yang mayoritas mengalami kecelakaan di turunan adalah motor bertransmisi otomatis. Sebab, engine brake kurang optimal dalam mengurangi kecepatan saat kendaraan melintasi turunan panjang.

"Hasil survei KNKT tahun 2020 menyebutkan, selama kurang lebih satu tahun telah terjadi kecelakaan sepeda motor pada ruas jalan Bandungsari - Salem (Gunung Lio) mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan 95 persen di antaranya menggunakan motor matik," ucap Djoko dalam keterangan tertulisnya.

Fenomena kecelakaan pada jalan menurun juga terjadi di beberapa tempat lainnya. Djoko merinci, kecelakaan sepeda motor khususnya sepeda motor dengan transmisi otomatis sering terjadi di beberapa lokasi di Jawa Timur, seperti di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo; Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen, Banyuwangi; Pendakian Gunung Buthak, Malang; Taman Wisata B-29, Lumajang.

"Di beberapa tempat tersebut sebenarnya pemerintah daerah setempat telah memasang spanduk berisi larangan menaiki gunung menggunakan motor matik. Namun pemasangan spanduk tersebut mendapat protes dari masyarakat yang menginginkan bepergian naik turun gunung menggunakan motor matik, sehingga spanduk peringatan tersebut akhirnya terpaksa diturunkan," ujarnya.

KNKT sendiri telah mengimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu memaksakan kendaraannya. Disarankan untuk menggunakan kendaraan sesuai dengan fungsi dan kemampuan yang dimiliki.

"Perlu diingat, bahwa setiap kendaraan itu memiliki kegunaan yang harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari desain atau rancangan masing-masing kendaraan," ujar Djoko.

"Untuk meminimalisir kejadian yang sama terulang lagi. Langkah-langkah yang bisa diambil antara lain perlu diadakannya sosialisasi terkait penggunaan kendaraan sepeda motor bertransmisi otomatis (safety driving) oleh kementerian terkait; dan untuk pabrikan industri sepeda motor selain memberikan buku manual pemeliharaan kendaraan juga diterbitkan buku panduan keselamatan berkendara (safety riding)," kata Djoko.

Hasil investigasi KNKT menunjukkan, salah satu faktor utama penyebab kecelakaan motor matik di jalan turunan adalah penggunaan rem yang terus-menerus secara berlebihan. Penggunaan rem yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fenomena vapor lock atau adanya uap air pada sistem pengereman, sehingga dapat mengalami kegagalan fungsi atau yang biasa dikenal dengan istilah rem blong.

Kendaraan yang melaju di jalanan menurun pada umumnya selain menggunakan rem juga akan memanfaatkan engine brake untuk mengurangi kecepatan kendaraan dengan menggunakan hambatan putaran mesin.



Simak Video "Biar Awet! Ini Cara Merawat Motor Matik di Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/dry)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT