Yamaha Bicara Tantangan Pengembangan Motor Listrik di Indonesia

Luthfi Anshori - detikOto
Sabtu, 23 Apr 2022 16:10 WIB
Yamaha E01
Performa baterai masih jadi kendala pengembangan motor listrik. Foto: Luthfi Anshori/detikOto
Jakarta -

Pabrikan besar otomotif roda dua kini mulai serius melakukan pengembangan kendaraan listrik. Misalnya seperti yang dilakukan Yamaha dengan proyek skuter listrik E01 yang siap diuji coba di sejumlah negara Asia dan kawasan Eropa.

Menurut Yamaha Motor, riset dan pengembangan kendaraan listrik memiliki tantangan serius, terkait performa daya tempuh baterai, serta ketersediaan fasilitas stasiun pengisian baterai kendaraan listrik.

Seperti dikatakan oleh Proof of Concept (PoC) Planner Yamaha Motor, Nomura Yasushi, pihak produsen saat ini dihadapkan pada tantangan bagaimana membuat kombinasi optimal, antara kemampuan jarak tempuh baterai dengan metode pengisian daya yang sesuai kebutuhan pelanggan.

"Jika konsumen membutuhkan motor listrik yang bisa menempuh jarak lebih jauh, konsumen harus menggunakan metode swap (atau mengganti baterai yang kosong dengan baterai yang penuh)," ujar Nomura dalam acara Yamaha Motor E01 Product Briefing secara virtual, Kamis (21/4/2022).

Sekalipun metode swap lebih mudah dilakukan dan praktis, tentunya pemilik kendaraan listrik tetap butuh infrastruktur pendukung lain seperti charging station (stasiun pengisian). Sebab, tidak semua kendaraan listrik menggunakan baterai yang mendukung metode swap.

"Ketika (motor listrik) Anda hanya mengandalkan unit power supply, sayangnya kami tidak memiliki infrastruktur itu, sehingga siapa pun dapat dengan bebas menggunakan fasilitas ini di mana saja di kota-kota yang disinggahi," sambung Nomura.

Terlebih, akan banyak pelanggan motor listrik yang menggunakan kendaraan ramah lingkungannya untuk berpergian tidak hanya dalam satu kota, tetapi juga singgah ke beberapa kota lainnya.

"Tentu saja (swap battery) mungkin (diterapkan) jika kita memiliki infrastruktur untuk mengakomodasi pertukaran baterai, tetapi ini belum terjadi. Oleh karena itu (alternatifnya) kita harus membuat baterai lebih besar dari yang terbesar, tapi dengan catatan itu bakal sulit menggunakan metode swap. Selain itu, karena baterai ini sangat besar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diisi ulang dayanya," terang Nomura.

(lua/dry)