Knalpot Bising Mulai Ditinggal, Bikers Pilih yang Bersuara Kalem

Sudirman Wamad - detikOto
Jumat, 11 Jun 2021 20:45 WIB
Bengkel knalpot di Cirebon
Bengkel knalpot di Cirebon terimbas maraknya razia knalpot bising yang digelar kepolisian (Sudirman Wamad/detkOto)
Cirebon -

Dudi Hermawan sibuk mengotak-atik resonator, peredam suara knalpot motor matik. Keahliannya mereparasi knalpot merupakan warisan dari orang tuanya.

Lebih dari empat tahun Dudi ikut meneruskan bisnis keluarganya, yakni bengkel reparasi dan penjualan knalpot. Bengkel ini didirikan orang tuanya sekitar 1990-an. Namanya CAS Knalpot. Salah satu bengkel reparasi knalpot legendaris di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Lokasi CAS Knalpot berada di Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Sekitar 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon. Jika dari pusat Kota Cirebon, jarak tempuhnya sekitar 30 menit. Bengkel ini selalu dipadati para bikers.

Saat detikcom menyambangi bengkel reparasi knalpot legendaris itu, Dudi tengah melayani salah satu permintaan konsumennya. Pria berusia 24 tahun ini sibuk mengotak-atik resonator knalpot agar bisa mengeluarkan suara yang adem dan berat. Beberapa tahun belakangan, tren permintaan reparasi knalpot berubah. Semula banyak bikers yang menginginkan suara knlapot bising, sekarang lebih cenderung suara yang adem dan berat.

Bengkel knalpot di CirebonBengkel knalpot di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detkOto

"Reparasi mayoritas yang adem sekarang mah. Suara knalpot racing yang bising sudah jarang," kata Dudi saat berbincang dengan detikcom di bengkelnya belum lama ini.

Dudi tak sendiri. Ia dibantu tiga pekerja untuk mereparasi knalpot. Sama halnya dengan Dudi, dua pekerja lainnya juga mengerjakan reparasi knalpot agar bisa menghasilkan suara yang adem. Dudi tak tahu persisnya alasan para bikers menginginkan suara knalpot yang adem ketimbang bising. Namun, ia menduga salah satunya adalah adanya razia knalpot bising yang dilakukan kepolisian.

"Ya kemungkinan karena razia juga (razia knalpot bising). Bisa jadi karena itu, bisa jadi juga karena faktor lain," katanya seraya tersenyum.

Pria berkacamata hitam itu menjelaskan tentang mekanisme perubahan suara knalpot. Menurutnya, kunci perubahan suara knalpot itu berada pada bagian resonator atau penyaring.

"Semakin panjang saringannya, maka makin adem. Kalau pendek ya lebih bising. Bahannya dari besi, besi plat yang berlubang," kata Dudi.

Lokasi resonator berada pada bagian dalam knalpot. Setelah header atau kepala knalpot. "Ya kami punya bahan-bahan dan alat untuk pembuatannya (resonator). Tapi kalau untuk membuat knalpot sih gak," kata Dudi.

Bengkel knalpot di CirebonBengkel knalpot di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detkOto

Bengkel CAS Knalpot bekerja sama dengan perajin knalpot asal Purbalingga, Jateng. CAS Knalpot hanya menerima reparasi, sedangkan untuk knalpot yang dijual berasal dadi Purbalingga.

"Kalau harga knalpot yang kita jual itu sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Ini dari Purbalingga. Kalau reparasi dikisaran Rp 150 ribu," kata Dudi.

Dudi mengaku pusing saat tahun pertama wabah COVID-19 menyerang. Sebab, permintaan reparasi dan penjualan knalpot mengalami penurunan. Ia juga tak menyangka bengkelnya ikut terdampak pandemi.

"Ya daya belinya kan menurun. Jadi ikut kena juga. Sekarang sudah mulai lumayan lagi," kata pria yang kini mengelola bisnis milik keluarganya itu.

Biasanya sebelum pandemi belasan motor terparkir di depan bengkel. Bahkan hingga ke halaman samping bengkel. "Ya sekitar 10 sampai 15 motor rata-rata ya per hari dulu. Sekarang paling delapan sampai 10 motor. Semoga bisa ramai lagi," kata Dudi.

Dipakai Pembalap Lokal

CAS Knalpot merupakan bengkel legendaris. Menjadi langganan para bikers lokal. Sebab, knalpot hasil reparasi bengkel ini kerap dipakai sejumlah pembalap lokal. Salah satunya Dion Adi Saputra, pembalap yang sempat mewakili Kabupaten Cirebon pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jabar 2018.

Knalpot karya CAS Knalpot sempat dipakai Dion Adi Saputra saat turun di ajang balapan Cirebon Katon Championship 2019 yang digelar Pemda Kabupaten Cirebon. Dion Adi Saputra turun di nomor BBK 150CC. Pembalap asal Kabupaten Cirebon ini berhasil naik podium, yakni berada di urutan ketiga.

Bengkel knalpot di CirebonBengkel knalpot di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detkOto

"Kalau untuk balapan resmi pernah dipakai sama Dion Adi Saputra waktu Cirebon Katon," kata Dudi.

Selain balapan resmi, Dudi juga mengaku knalpot buatan CAS Knalpot kerap dipakai sejumlah pembalap lokal yang turun di balapan liar. "Yang liar juga ada, biasanya kelas 115 cc. Ya buat yang pemula-pemula," kata Dudi.

Dudi juga berharap karyanya bisa dipakai di turnamen besar. Ia mengaku bangga saat knalpotnya dipakai pembalap lokal. "Semoga ke depan lebih berkembang. Bisa dipakai turnamen yang lebih besar," kata Dudi.

Dudi juga mengatakan knalpot memiliki pengaruh terhadap performa motor. "Kalau untuk pengaruh ke performa motor sih itu tergantung ya. Jadi bukan hanya knalpot, harus juga selaras sama mesin," kata Dudi.

Bising saat Touring

Komunitas Byson Yamaha Owner Indonesia Club (BYONIC) Cirebon mengamini tren penggunaan knalpot bersuara adem. Salah seorang anggota BYONIC Cirebon, Aldi Bagus Prakoso mengaku sudah tiga tahun lebih menggunakan knalpot bobokan atau reparasi bersuara adem.

"Bukan karena ada razia knalpot bising. Kalau saya pribadi karena lebih kepada menghargai masyarakat. Kalau knalpot racing bising kan berisik, tidak enak kalau masuk perumahan," kata pria berusia 23 tahun itu saat berbincang dengan detikcom.

Aldi hanya memakai knalpot reparasian bersuara adem untuk keseharian. Namun, ia juga mengaku selalu mengganti knalpotnya saat touring. Menurutnya, knalpot racing bising cocok untuk dipakai perjalanan saat touring.

"Bulan karena apa-apa. Butuh knalpot racing (bising) itu biar tidak mengantuk. Kita bisa memainkan suara saat perjalanan. Sebenarnya boleh sih, karena kan kalau touring itu lebih dari dua atau lima motor," kata Aldi.

Aldi juga mengaku pernah diberhentikan polisi saat touring karena menggunakan knalpot bising. "Ya hanya diberi peringatan," kata Aldi.

"Saya harapannya sih penggunaan knalpot racing diizinkan saat touring. Karena kan perjalanan jauh, ya pengecualian. Kemudian, kalau touring kan hanya menggunakan jalan besar, tidak masuk ke jalan kecil atau perumahan," kata Aldi menambahkan.

Senada dengan Aldi, salah seorang pelanggan CAS Knalpot asal Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Nastoni juga memilih menggunakan knalpot yang lebih adem. Ia mengaku sudah tiga kali mereparasi knalpot di CAS.

"Ora sing melung-melung suarae. Pengen digawe sing adem bae. (Bukan yang suara tinggi atau bising. Pengin dibuat yang adem saja)," kata Nastoni.

Ia mengaku khawatir terkena razia polisi jika menggunakan knalpot bising. Selain itu, Nastoni juga mengaku tak enak dengan tetangga dan masyarakat perumahannya. Sebab, rumahnya berada di pemukiman padat penduduk.



Simak Video "Knalpot Bising Dirazia, Produsen Knalpot di Jabar Menjerit"
[Gambas:Video 20detik]
(din/lth)