Motor Listrik Kalau Mau Laris Harganya Setara BeAT Cs

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 27 Nov 2020 17:54 WIB
Motor listrik asal Eropa, Niu memasuki pasar Indonesia
Pengamat ungkap penyebab motor listrik sulit berkembang di Indonesia. Foto: Niu
Jakarta -

Sepeda motor bertenaga listrik disebut belum akan berkembang dalam waktu dekat ini. Menurut pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, masih ada sejumlah permasalahan yang menghambat pengembangan kendaraan ramah lingkungan itu. Salah satunya bersinggungan dengan harga jual ke konsumen.

Indonesia punya program besar dalam mengurangi kerusakan lingkungan, salah satunya adalah membidik penggunaan kendaraan listrik mencapai 20 % dari total volume kendaraan yang ada, pada tahun 2025. Artinya target itu harus dicapai dalam 5 tahun ke depan. Bisakah Indonesia melakukan itu?

Dijelaskan Yannes, saat ini permasalahan utama sepeda motor listrik ada pada harga jualnya yang mahal. Mahalnya harga motor listrik disebabkan karena tingginya harga komponen baterai sebagai nyawa utama kendaraan ini.

"Bayangkan saja, harga satu module pack baterai mulai Rp 8 juta sampai Rp 11 juta untuk single pack. Nah kalau sepeda motornya memakai dua battery pack, maka untuk baterai saja sudah bernilai sekitar Rp 14 juta sampai Rp 22 juta." ujar Yannes, kepada detikOto, Jumat (27/11/2020).

Motor skutik entry level saat ini masih menjadi raja jalanan. Banyak pabrikan menjual produk dengan banderol di bawah Rp 20 juta, mulai dari Honda BeAT, Yamaha Gear, hingga Suzuki Next. Tak bisa dipungkiri jika motor listrik saat ini masih dibanderol lebih mahal dari motor bensin.

"Mari kita bandingkan dengan harga motor ICE (Internal Combustion Engine) yang saat ini yang harganya hanya di kisaran Rp 15 juta- Rp 40 jutaan," jelas Yannes.

Tidak hanya membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli motor listrik, fakta tersebut juga bisa mengganggu persiapan produsen sepeda motor untuk memproduksi kendaraan ramah lingkungan.

"Karena sepeda motor ini segmen pasarnya ada di menengah ke bawah, maka mereka (pabrikan) sangat price sensitive. Itu juga yang membuat semua produsen sepeda motor yang akan mempersiapkan kendaraan listriknya jadi sangat berhati-hati. Sebab harga modul baterai bisa lebih mahal dari harga kendaraannya," lanjut Yannes.

Selain terkendala harga jual mahal, perkembangan motor listrik di Indonesia juga terganjal dengan isu ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang saat ini belum memadai. Dan kalaupun fasilitas itu sudah mapan, masih ada masalah lain terkait waktu pengisian baterai.

"Charging time baterai juga jadi salah satu masalah. Saat ini proses pengisian ulang masih cukup lama, antara 3-7 jam untuk satu modul baterai dengan daya tempuh sekitar 40-60 km (tergantung kapasitas baterai dan cara mengemudi)," jelas Yannes.

Di luar masalah tersebut, ada beberapa isu yang tampaknya bakal menjadi pertanyaan calon konsumen motor listrik, yakni terkait dengan durabilitas atau daya tahan kendaraan ketika melewati jalan rusak atau genangan air.

Siapa Peminat Motor Listrik?

Meski banyak hambatan, bukan berarti motor listrik sepi peminat. Buktinya beberapa merek sepeda motor listrik lokal seperti Viar, Selis, Gesits, dan BF Good Rich mulai berani memasarkan kendaraan minus asap itu. Tentunya mereka tidak akan melakukan bisnis itu jika tidak ada pasarnya.

"Saat ini tampaknya segmen pasar yang paling siap adalah generasi milenial dan khususnya generasi Z. Mereka yang paling menginginkan adanya kebaruan experience dalam mobilitas. Mereka ingin kendaraan ramah lingkungan, berteknologi maju, dan dapat terkoneksi dengan smartphone mereka," tukas Yannes.



Simak Video "Motor Listrik Mengaspal di Kota Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)