Hal tersebut disampaikan salah satu ekonom, Faisal H. Basri, pada presentasinya, di sebuah diskusi tentang perkembangan industri otomotif Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
"Kalau nilai tukar gonjang-ganjing, kan rupiah melorot terus tuh, ya otomatis ini tekanan buat industri otomotif. Daya beli masyarakat turun, harga terpaksa naik, karena nilai tukarnya membleh terus," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mobil saya rasa sudah di atas 50%, sepeda motor sudah di atas 90%. Tapi lokal konten itu adalah dalam bentuk jumlah komponen, bukan nilai. Nah komponen itu misalnya ban, ban itu carbon black-nya diimpor, atau velg, bajanya ya diimpor. Jadi industri otomotif baik motor maupun mobil juga sangat tergantung pada nilai tukar," ucapnya.
Menurut data yang dimilikinya, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terpanjang sejak Agustus 2011, di angka Rp 8.460. Lalu di 29 September 2015 menyentuh titik terendah sejak 1998 dengan angka Rp 14.728, dan di 16 Desember 2016 mencapai angka Rp 13.426. (khi/rgr)












































Komentar Terbanyak
Heboh Avanza-Xpander Cs Bakal Dilarang Isi Pertalite, Pertamina Bilang Begini
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
BYD Luncurkan Denza N9 Flash Charge: Jarak Tempuh 1.520 Km, Ngecas Cuma 9 Menit