Populasi sepeda motor listrik di Indonesia disebut masih jauh tertinggal dibanding motor berbahan bakar minyak (BBM) atau combustion engine (ICE). Ternyata, ini biang keroknya!
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi mengungkap akumulasi penjualan motor listrik baru mencapai sekitar 280 ribu unit. Angka ini jomplang jika dibandingkan dengan pertumbuhan motor ICE yang mencapai 5-6 juta unit per tahun.
"Jadi kalau secara market share kami masih kecil sekali dibandingkan dengan motor yang ICE," kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (21/9/26).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penetrasi motor listrik ke pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan subsidi yang ditarik ulur. Kondisi tersebut membuat calon konsumen memilih menunggu karena berharap mendapatkan bantuan pembelian dari pemerintah.
"Ada tantangan yang saat sekarang ini kenapa kok kemudian penetrasi ke market untuk sepeda motor listrik di Indonesia cukup terhambat," imbuh dia.
"Di tahun 2023 karena mungkin masih awal kita hanya bisa menjual sekitar angka hanya sekitar 15 ribu," jelas Budi.
"Namun di tahun 2024 kita bisa menjual sekitar 77 ribu (unit). Dan di tahun 2025 walaupun tidak ada subsidi, kita juga mampu menjual sampai dengan angka 70 ribu (unit). Namun di tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus kami sekarang ini baru sekitar 18.900 (unit)," ungkapnya lagi.
Kelanjutan program subsidi motor listrik di Indonesia tidak jelas. Sebelumnya insentif motor listrik dijanjikan akan keluar pada Agustus 2025. Namun, seiring berganti tahun, rencana tersebut tak kunjung direalisasikan.
Budi juga menyoroti janji subsidi motor listrik yang berlarut-larut tanpa kepastian. Rencana subsidi sudah disampaikan pemerintah sejak awal 2026, namun hingga kini realisasinya belum ada.
"Di awal tahun 2026 ini pemerintah sudah menyampaikan bahwa ada rencana subsidi," ungkap dia.
"Kemarin terakhir yang disampaikan oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya sebelum beliau selesai menyampaikan akan diberikan subsidi sekitar Rp3 juta," kata dia.
"Namun sampai dengan bulan September ini juga belum ada kehaparannya. Jadi sangat juga menghambat menyangkut masalah penjualan sepeda motor listrik yang ada," tambahnya lagi.
Selain masalah subsidi, ia menyebut ketersediaan infrastruktur pengisian daya turut jadi ganjalan.
"Kemudian berikutnya selain bottleneck menyangkut masalah subsidi adalah charging," ungkapnya.
Masyarakat, kata Budi, juga masih ragu menggunakan motor listrik lantaran minimnya bengkel resmi. "Banyak masyarakat yang masih menanyakan kalau kemudian menggunakan sepeda motor listrik, kalau rusak nanti akan perbaikan di mana," jelasnya.
Persoalan lain datang dari sisi pembiayaan. Menurut Budi, perbankan Himbara sebenarnya sudah menyatakan siap mendukung pendanaan motor listrik, namun implementasinya di lapangan masih tersendat.
"Kalau dirapatkan dengan pihak pemerintah, beberapa industri atau kemudian bank Himbara menyangkut masalah financing, kalau diajak untuk mendukung sepeda motor listrik dalam rangka pendanaan, siap. Namun dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," katanya.










































