Kapal di Negara Ini Mulai Larang Mobil Listrik dan Hybrid, Khawatir Terbakar

Kapal di Negara Ini Mulai Larang Mobil Listrik dan Hybrid, Khawatir Terbakar

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 21 Sep 2026 08:03 WIB
In this handout picture provided by the US Coast Guard, a fire aboard the cargo vessel Morning Midas approximately 300 miles south of Adak, Alaska, June 3, 2025.  All 22 crew members were rescued by the crew of motor vessel Cosco Hellas with no repor
Ilustrasi kapal pengangkut mobil listrik terbakar. Foto: AFP/US COAST GUARD/COURTESY OF ROLAN
Jakarta -

Perusahaan pelayaran di Filipina, Montenegro Shipping Lines, memberlakukan larangan terhadap kendaraan listrik (EV) dan kendaraan hybrid (HEV) di atas kapalnya. Alasannya, ada kekhawatiran akan potensi kebakaran, ledakan, thermal runaway, dan bahaya lain yang terkait dengan baterai.

Dikutip media lokal Filipina, Autoindustriya, dalam memorandum yang ditujukan kepada para nakhoda kapal, Montenegro Lines menginstruksikan mereka untuk tidak mengizinkan mobil listrik atau hybrid apa pun naik atau diangkut dengan kapal perusahaan, baik sebagai kendaraan penumpang maupun sebagai kargo.

Arahan ini dikeluarkan di tengah penyelidikan pihak berwenang terkait kebakaran pada tanggal 9 September di atas MV June Aster, sebuah kapal feri yang dioperasikan oleh Atienza Inter-Island Ferries yang sedang dalam perjalanan dari Manila menuju Coron, Palawan. Kapal tersebut mengangkut lima sepeda motor, satu kendaraan listrik, satu forklift, satu truk pikap, dan kargo lainnya saat kebakaran terjadi. Para penyintas melaporkan mendengar suara ledakan, namun pihak berwenang belum menentukan penyebab kebakaran tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Montenegro Lines menyebut larangan terhadap mobil listrik dan mobil hybrid ini sebagai langkah keselamatan preventif yang bertujuan untuk mengurangi risiko terkait baterai kendaraan selama operasi kapal.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan arahan tersebut, nakhoda diwajibkan berkoordinasi dengan personel bagian operasi, terminal, tiket, pemuatan, dan kargo untuk memastikan mobil listrik dan mobil hybrid tidak diterima untuk diangkut. Kendaraan juga harus diidentifikasi dan diperiksa dengan benar sebelum naik ke kapal.

Pembatasan ini mencakup angkutan penumpang maupun kargo. Memorandum tersebut tidak merinci berapa lama larangan ini akan berlaku atau apakah Montenegro Lines akan meninjau kembali kebijakan tersebut setelah pihak berwenang menyelesaikan penyelidikan atas kebakaran feri MV June Aster.

Departemen Energi (DOE) Filipina mengeluarkan pernyataan yang mengakui kekhawatiran keselamatan yang disampaikan oleh Montenegro Shipping Lines. Mereka menyebut langkah itu sebagai tindakan yang bijaksana sembari menunggu pengembangan standar yang lebih luas terkait mobilitas listrik di sektor kelautan.

DOE menyatakan pihaknya sedang bekerja sama dengan Biro Perlindungan Kebakaran (BFP) untuk menyusun aturan dan regulasi pelaksanaan Kode Keselamatan Kebakaran tahun 2026, termasuk ketentuan yang menangani risiko-risiko baru terkait kendaraan listrik dan baterai litium-ion. Departemen tersebut juga berkoordinasi dengan Otoritas Industri Maritim (MARINA) dan Penjaga Pantai Filipina (PCG) terkait penyelidikan yang sedang berlangsung mengenai insiden terbakarnya kapal feri di Coron.

Menteri Energi Sharon Garin mengatakan, pemerintah Filipina sedang berupaya menetapkan persyaratan keselamatan yang jelas, seragam, dan berbasis sains tanpa menghambat pertumbuhan mobilitas listrik secara tidak perlu.

"Keselamatan harus diutamakan," ujar Garin. Dia menambahkan bahwa koordinasi dengan BFP dan otoritas maritim bertujuan untuk melindungi penumpang dan kapal sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.



(rgr/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads