Yamaha Mio 2004, Casingnya Retro Habis

Yamaha Mio 2004, Casingnya Retro Habis

- detikOto
Selasa, 07 Jun 2011 13:51 WIB
Yamaha Mio 2004, Casingnya Retro Habis
Jakarta - Yamaha Mio terlahir sebagai skuter atau motor tanpa gigi. Konsep itu ternyata memudahkan penggunanya. Namun bagaimana jika karakter skuter tapi bajunya motor jadul. Ya itulah yang coba diungkapkan oleh Anton Chandra.

Pemilik rumah modifikasi Ton's Chrome itu mencoba membangun sebuah motor zaman baheula lewat skuter modern Yamaha Mio jebolan 2004 dengan mempertahankan sistem transmisi matiknya.

"Ide awal motor jadul. Semuanya handmade, kalau mesin saya pertahankan saja," katanya ketika bengkelnya yang terletak di jalan Ciputat Raya No. 20 A Tanah Kusir, Jakarta Selatan disambangi detikOto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai langkah awal, Anton langsung melucuti bodi Yamaha Mio, hanya menyisahkan mesinnya saja. Dan uniknya ketika ditanya sketsa awal dari mana, Anton cukup bingung menjawabnya.

"Lah gue enggak bisa gambar bro. Cuma bisa bangun motor. Jadi jangan tanya gambar deh," tandas Anton tersenyum.



Bermodal besi pipa seamless ukuran 32 inci, Anton mulai merakit rangka. Pengerjaan bagian ini cukup telaten. Tujuannya agar tubuh motor yang bertambah jolor mampu ketika menopang bobot pengendara.

"Untuk bagian harus sangat baik. Gue enggak tahu persis panjangnya," ucapnya yang mengaku tidak lama untuk membangun rangka tersebut.

Selanjutnya untuk membantu tampilan motor, Anton menggunakan hardtail alias rigid (untuk belakang). Sementara fork depan menggunakan springer. Dengan itu wujud motor klasik semakin terasa, telebih dengan tangki model klasik dan wujud headlamp yang dicomot angkutan umum Bajaj.

"Fork depan after market. Belakang model rigid. Jadi emang kalau dibawa mantul-mantul," ucapnya sembari ketawa.

Ubahan lain terletak pada dudukan mesin. Karena panjang motor bertambah, otomatis Anton harus mengubah engine mounting. Akibatnya Anton harus menggunakan besi sepanjang 13-15 inci.

"Engine mounting mundur sekitar 15 inci. Dan untuk mempercantik tampilan mesin, gwe cuma meng-covernya dengan aksesoris. Lumayan juga jadinya," sambung Anton.

Nah, bagaimana dengan kaki-kaki? Supaya paling stylish di jajaran motor jadul, Anton mengubah ukuran jari-jari standar dengan jari-jari ukuran 6 mm yang mengitari pelek berukuran 19 inci.

Tujuannya bisa tambah garang. "Hanya saja jumlah jari-jari tetap yakni 36 pada depan dan belakang," imbuhnya. Sementara ban menggunakan ban anti-slip aftermarket.

Setelah urusan atas selesai, saatnya fokus ke penghenti langkah. Urusan satu ini Anto tidak ingin repot. Ia hanya menggunakan tromol Suzuki TS dan tromol belakang menggunakan Yamaha Mio standar.

Motor pun hampir rampung. Tinggal sentuhan terakhir. Seperti biasa, pria asal Sumsel itu membaluri motor dengan warna merah candy tone. "Yang ini yang paling gue demen, warnanya sedikit basah gitu. Itu candy tone," ucapnya.




Alhasil dengan pengerjaan memakan waktu 1,5 bulan dan memakan dana 25 juta itu cukup sukses. Ketika masuk kontes modifikasi beberapa waktu lalu, motornya berhasil juara I kelas ekstrem. Oke juga ini. "Jangan salah ini sudah ada yang DP," tutupnya.


(ikh/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads