Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan agar mobil hybrid mendapatkan insentif baik insentif fiskal maupun non-fiskal. Begini dampaknya jika mobil hybrid dapat insentif.
Menteri Perindustrian Sarmuji sebelumnya mengungkapkan usulan untuk memberikan insentif mobil hybrid, plug-in hybrid (PHEV) dan range-extended electric vehicle (REEV). Insentifnya bisa berupa fiskal maupun non-fiskal. Besarannya tak mesti sama dengan insentif mobil listrik.
Ketua Pengembangan Pasar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Menteri Perindustrian Sarmuji. Dalam pertemuan itu, dibahas soal insentif untuk kendaraan hybrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pada pertemuan kami Gaikindo dengan Pak Menteri Perindustrian yang baru, Pak Sarmuji, kami juga membahas hal ini. Intinya adalah apakah kendaraan hybrid, plug-in hybrid, maupun REEV, range extender electric vehicle, perlu atau tidak mendapat insentif juga?" kata Jongkie dalam program AutoBizz yang ditayangkan di CNBC Indonesia baru-baru ini.
Jongkie menilai, jika mobil hybrid mendapatkan insentif, maka bisa menciptakan efek domino. Penjualan mobil bisa meningkat, lapangan pekerjaan bisa terbuka lebih banyak, dan pemerintah pun mendapatkan pemasukan dari pajak.
Menurut Jongkie, Gaikindo menargetkan penjualan mobil tahun ini mencapai 850 ribu unit. Jika ada insentif untuk mobil hybrid, penjualan mobil bisa meningkat lagi, hingga 900 ribu unit.
"Jadi kalau andai kata adanya insentif tadi, dan nanti BEV (mobil listrik), maupun hybrid dapat insentif ya, kita berharap bisa naik lagi ke barangkali ke angka dekat-dekat ke 900.000 (unit). Dan ini kan kita juga sangat berharap bahwa kita bisa tembus di 1 juta (unit) lagi.Karena sudah lama sekali kita enggak tembus-tembus di 1 juta (unit), kita ada di 1 million trap," sebut Jongkie.
Jika penjualan kendaraan meningkat, kata Jongkie, bisa berdampak positif. Lapangan pekerjaan bisa terbuka lebih banyak karena penjualan kendaraan meningkat.
"Karena tadi kembali saya katakan bahwa industri otomotif ini sangat kompleks, dalam arti kata luas sekali dan yang terlibat di dalam usaha atau bisnis otomotif itu kira-kira total ada 1,5 juta orang. Baik itu di pabrik mobil, pabrik komponen, perusahaan asuransi, perusahaan leasing, dealer, salesman, salesgirl, lalu bengkel dan lain sebagainya itu total-total kira-kira ada 1,5 juta (orang). Ini kan juga harus kita perhatikan. Makin banyak penjualan otomotif, makin banyak pula lapangan kerja yang kita bisa ciptakan," katanya.
Pemerintah pun bisa mendapatkan pemasukan lebih jika penjualan kendaraan meningkat. Sebab, dari harga satu unit kendaraan, ada beberapa komponen pajak yang dibayarkan ke pemerintah pusat maupun daerah.
"Tidak harus bebas (pajak) 100% atau bebas murni semuanya bebas (untuk insentif mobil hybrid). Kalau dikenakan sedikit, pemerintah daerah juga kan punya pendapatan.Bahwa pemerintah daerah kalau nggak ada pendapatan dari mobil bagaimana? Nggak ada pendapatan dari bea balik nama, BBNKB, lalu PKB (pajak kendaraan), mobilnyamakin banyak masuk ke wilayahnya atau kotanya, tapi nggak ada pendapatan kan susah juga," ujar Jongkie.
