Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan beberapa alasan mengapa mobil hybrid perlu diberi insentif. Hal ini telah dibahas Gaikindo bersama Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.
Menteri Perindustrian Sarmuji sebelumnya mengungkapkan usulan untuk memberikan insentif mobil hybrid, plug-in hybrid, (PHEV) dan range-extended electric vehicle (REEV). Insentifnya bisa berupa fiskal maupun non-fiskal. Besarannya tak mesti sama dengan insentif mobil listrik.
Ketua Pengembangan Pasar Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Menteri Perindustrian Sarmuji. Dalam pertemuan itu, dibahas soal insentif untuk kendaraan hybrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pada pertemuan kami Gaikindo dengan Pak Menteri Perindustrian yang baru, Pak Sarmuji, kami juga membahas hal ini. Intinya adalah apakah kendaraan hybrid, plug-in hybrid, maupun REEV, range extender electric vehicle, perlu atau tidak mendapat insentif juga?" kata Jongkie dalam program AutoBizz yang ditayangkan di CNBC Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Jongkie mengatakan, sempat dibahas beberapa kriteria yang menunjang mobil hybrid perlu dapat perhatian pemerintah. Pertama, mobil hybrid sudah hemat bahan bakar, karena mesin internal combustion engine (ICE) atau mesin bensinnya lebih jarang hidup lantaran dibantu tenaga listrik dari baterai.
"Kalau baterainya habis, maka baru mesin bensinnya hidup untuk mengisi baterainya," ujar Jongkie.
Kedua, lanjutnya, karena mesin bensinnya jarang hidup, maka emisinya juga lebih sedikit. Sehingga mobil hybrid tidak menyumbang polusi sebanyak mobil konvensional.
"Yang ketiga, mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV tidak memerlukan charging station, SPKLU, yang terus terang saja masih kurang jumlahnya di Indonesia ini. Jadi kita jangan hanya melihat Jakarta, kita harus melihatnya secara keseluruhan, Indonesia," bebernya.
Keempat, mobil-mobil hybrid juga relatif lebih terjangkau harganya dibanding mobil listrik. Sebab, mobil hybrid tidak memerlukan baterai yang terlalu besar.
"Ini kan yang paling mahal dari sebuah mobil listrik itu kan baterainya. Jadi, kalau itu full baterai dari depan sampai ke belakang itu pasti lebih mahal dibanding kalau mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV, baterainya kecil-kecil. Daya tahannya mungkin hanya 100 km. Karena sewaktu-waktu dia habis, kan hidup mesin bensinnya tadi. Atau bisa dicolok atau plug-in hybrid bisa di-charge di mana saja," ujarnya.
Dan yang terpenting bagi industri adalah, mobil hybrid masih menggunakan komponen-komponen mobil konvensional. Sehingga, industri pemasok komponen masih bisa hidup di tengah gempuran mobil listrik yang memiliki komponen lebih sedikit.
"Contoh knalpot, exhaust system dia masih pakai, filter dia masih pakai, radiator dia masih pakai. Jadi, pabrik-pabrik komponen yang eksis ada di Indonesia saat ini juga bisa masih lanjut memproduksi produk itu untuk dipasang di mobil-mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV," katanya.
"Jadi, ini lima hal ini harus kita perhatikan. Bahwa mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV perlu diperhatikan, perlu diberikan insentif. Kami mengatakan tidak perlu sebanyak atau sebesar BEV (mobil listrik). Tapi kalau boleh dan kalau bisa ini juga diberikan insentif," ujar Jongkie.
Simak juga Video '5 Mobil Hybrid Terlaris Januari-Agustus 2026':
(rgr/din)
