Porsche sedang menyiapkan senjata baru untuk bermain di kelas supercar.
Lewat Porsche Mission S, pabrikan asal Jerman itu memperlihatkan gambaran mobil sport masa depan sekaligus mengumumkan pengembangan platform super sports car bermesin tengah yang posisinya berada di atas 911.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Porsche Mission S Foto: dok. Porsche |
Mission S diperkenalkan sebagai vision model dalam strategi baru Porsche yang disebut 'Sportwagenschmiede '35'. Mobil ini menjadi gambaran awal mengenai arah desain Porsche untuk beberapa tahun ke depan.
Yang paling menarik bukan sekadar desainnya. Porsche memastikan platform super sports car bermesin tengah yang direpresentasikan Mission S bukan proyek hypercar satu kali.
Mobil tersebut dirancang sebagai tambahan permanen dalam jajaran produk Porsche dan ditempatkan di atas 911.
Langkah ini membuka ruang bagi Porsche untuk bertarung lebih serius di kelas supercar yang selama ini dihuni nama-nama seperti Ferrari hingga Lamborghini.
Porsche Mission S Foto: dok. Porsche |
"Porsche harus bisa dikenali sebagai Porsche pada pandangan pertama. Mission S memberikan gambaran mengenai ide dan fitur desain yang akan membentuk Porsche di tahun-tahun mendatang," ujar Michael Leiters, Chairman of the Executive Board Porsche AG.
Mission S juga menjadi wadah Porsche untuk memperkenalkan evolusi bahasa desainnya. Porsche merangkumnya dalam tiga prinsip, yakni autentik, konsisten, dan timeless.
Secara visual, Mission S tetap membawa sejumlah ciri khas Porsche. Mobil ini memiliki fender bergaya torpedo, garis atap khas Porsche, serta proporsi bodi yang lebar dan rendah.
Desainnya juga mengambil inspirasi dari sejumlah model legendaris Porsche. Lampu depan bulat dan bentuk fender mengingatkan pada 911, sementara garis bodinya terinspirasi Porsche 911 generasi G.
Bagian depan yang rendah mengambil inspirasi dari Porsche GT1. Sementara bentuk atap hingga bagian belakang mengingatkan pada Porsche 959. Konsep 'car-in-car' di bagian buritan juga mengambil inspirasi dari GT1.
Di balik desain tersebut, arsitektur mid-engine menjadi salah satu elemen penting Mission S. Posisi mesin di tengah memungkinkan Porsche mempertahankan karakter proporsi sports car yang menjadi ciri khasnya.
Porsche juga memasukkan sejumlah elemen dari sejarah motorsport. Salah satunya sistem pendinginan yang terinspirasi kipas radiator Porsche 917 serta active rear wing yang terintegrasi dengan bodi.
Menariknya, pendekatan serupa juga diterapkan di interior. Porsche tidak mengejar sebanyak mungkin layar, melainkan kembali menempatkan pengemudi sebagai pusat pengalaman berkendara.
Porsche Mission S Foto: dok. Porsche |
Mission S menggunakan kombinasi kontrol analog dan digital. Lima instrumen berbentuk lingkaran ditempatkan di belakang setir, dengan tachometer analog sebagai pusatnya.
Porsche bahkan tidak memasang layar tengah permanen maupun layar khusus penumpang depan. Sebagai gantinya, tersedia sistem smartphone yang dapat ditarik dan kompatibel dengan MagSafe.
Pendekatan ini menjadi bagian dari filosofi Porsche untuk membuat interaksi antara pengemudi dan mobil terasa lebih langsung, sekaligus mengurangi ketergantungan pada permukaan digital.
Mission S sendiri diperkenalkan di sebuah dermaga di Queens, New York. Lokasi ini dipilih karena memiliki hubungan historis dengan Porsche 550 Spyder.
Belum diketahui kapan Mission S ini mulai direalisasikan, namun kehadirannya memberikan satu pesan yang cukup jelas bagi perusahaan asal Jerman itu. Mereka tengah bersiap untuk bermain di segmen sports car bermesin tengah dan melawan rival-rival ikonik asal Italia.













































