Mobil-mobil China mengguncang pasar otomotif di seluruh dunia. Namun, dampak itu belum dirasakan di Amerika Serikat (AS) karena masih ada tarif tinggi dan kebijakan yang dirancang untuk membendung invasi mobil China.
Meski begitu, ada pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang menyambut baik rencana produsen mobil China untuk memproduksi kendaraan di AS. Hyundai menyuarakan kekhawatirannya terkait rencana tersebut.
Presiden dan CEO Hyundai Motor Company Jose Munoz memperingatkan bahwa pasar mobil AS bisa jadi akan menyerupai kondisi di Inggris dan Eropa jika AS menghapus pembatasan impor. Di Inggris dan Eropa, mobil China telah menjadi mobil terlaris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inggris, yang dulunya merupakan pasar yang sangat kuat dan menguntungkan, kini kondisinya mirip dengan China. Semua merek terlaris berasal dari China karena tidak adanya hambatan. Jadi, menurut saya hal serupa bisa saja terjadi di AS--meskipun dalam skala yang berbeda--kecuali jika ada ketentuan-ketentuan tertentu yang diterapkan," ujar Munoz seperti dikutip Reuters.
Hingga saat ini, mobil-mobil China belum mampu bersaing di Amerika Serikat. Sebab, masih ada kebijakan tarif pajak sekitar 100 persen untuk kendaraan listrik China.
Namun, baru-baru ini Trump mempersilakan produsen otomotif China masuk Amerika. Syaratnya, mereka harus membuka pabrik di Amerika.
"Jika China ingin masuk dan membuka pabrik untuk memproduksi mobil mereka di sini, saya tidak keberatan," ungkap Trump dalam wawancara dengan Fox News sebagaimana dilansir NBC.
"Jepang sudah melakukannya, tapi mereka merekrut orang kita (orang AS). Hal terpenting adalah mereka merekrut orang kita," katanya lagi.
Trump menambahkan, dia tidak ingin pabrikan China itu memproduksi mobil di Meksiko dan mengekspornya ke AS.
"Saya tidak meremehkan mobil-mobil Tiongkok," ucapnya.
Meski begitu, American Automotive Policy Council--organisasi yang mewakili Ford, General Motors, dan Stellantis di Washington--mengeluarkan pernyataan yang menanggapi secara kritis komentar Trump tersebut. Organisasi tersebut menuding bahwa produsen mobil China memperoleh keuntungan tidak wajar dari subsidi negara, manipulasi mata uang, dan keunggulan non-pasar lainnya.










































