Di RI Masih Debat Baterai Nikel Vs LFP, di Luar Sudah Bahas Baterai Sodium

Di RI Masih Debat Baterai Nikel Vs LFP, di Luar Sudah Bahas Baterai Sodium

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 23 Sep 2026 10:16 WIB
Baterai Mobil Listrik.
Ilustrasi baterai mobil listrik. Foto: Doc. Asean Briefing
Jakarta -

Teknologi baterai kendaraan listrik saat ini semakin canggih. Bahkan, kini sudah ada baterai sodium-ion untuk kendaraan listrik.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko menyampaikan, memang Indonesia memiliki sumber daya nikel melimpah yang bisa digunakan untuk baterai kendaraan listrik. Namun, Moeldoko tak menampik teknologi baterai yang lebih canggih.

"Dari hulu kita memang memiliki sumber daya yang luar biasa di bidang nikel. Tapi saya ingin menyampaikan dengan perkembangan teknologi yang lompat itu bahwa baterai sekarang tidak hanya mengandalkan nikel, karena saat ini malah sudah berubah-ubah terus," kata Moeldoko dalam RDPU Panja Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional bersama Komisi VII DPR RI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Moeldoko, prinsip dari industri baterai kendaraan listrik utamanya adalah bahan baku yang mudah didapat. Kemudian biayanya lebih rendah sehingga produknya memiliki daya saing tinggi.

ADVERTISEMENT

"Jadi kita tidak harus nikel karena LFP itu orientasinya bukan nikel. Kenapa sekarang banyak industri baterai yang menggunakan LFP bukan NMC (nikel-mangan-kobalt)? Karena LFP jauh lebih efisien, lebih murah dan dia memiliki daya tahan cukup baik. Sedangkan NMC nikel itu mungkin pada industri-industri tertentu yang bisa diandalkan ke sana," ujar Moeldoko.

Moeldoko menilai, teknologi kendaraan listrik sebenarnya sederhana. Kendaraan ramah lingkungan itu mengandalkan baterai, motor penggerak dan kontroler sebagai tiga komponen utama.

"Kita bisa kok membuat sebenarnya, tapi sekali lagi kita terlambat," ujar Moeldoko.

Dia mengatakan, di luar negeri pengembangan baterai kendaraan listrik semakin advance. Bahkan sekarang sudah ada baterai sodium.

"Kita masih sibuk mikirin nikel, tapi sekarang (di luar negeri) sudah sodium, lompatan sodium fosfat sudah kencang sekali itu sekarang. Karena menuju kepada efisiensi gitu. Jadi nggak bisa teknologi itu nggak diikutin. Karena berkembangnya lompat bukan jalan linear," sebut Moeldoko.

Dikutip dari CNN, baterai sodium-ion sebetulnya memiliki desain yang mirip dengan lithium-ion. Kedua jenis baterai menghasilkan listrik melalui reaksi kimia dan terdiri dari anoda, katoda, pemisah, dan elektrolit.

Namun, dalam baterai sodium-ion, ion lithium diganti dengan ion sodium di katoda baterai, dan garam lithium ditukar dengan garam sodium di elektrolit.

Baterai sodium-ion memang tidak dapat memberikan jarak tempuh yang lebih panjang untuk kendaraan listrik sebagaimana lithium-ion. Namun ternyata, baterai ini memiliki sejumlah keunggulan. Misalnya, bahan yang digunakan dalam baterai sodium-ion cenderung lebih murah daripada baterai lithium-ion. Hal ini diperkirakan dapat membuat harga mobil listrik bisa lebih terjangkau.



(rgr/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads