Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Akan Tekan Polusi Udara-Impor Migas

ADVERTISEMENT

Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Akan Tekan Polusi Udara-Impor Migas

Inkana Izatifiqa R Putri - detikOto
Sabtu, 17 Des 2022 14:52 WIB
Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang tengah memfinalisasi insentif pembelian kendaraan listrik. Insentif ini antara lain, mobil listrik sebesar Rp 80 juta, motor listrik baru Rp 8 juta, mobil listrik hybrid Rp 40 juta, serta motor konversi listrik Rp 5 juta.

"Pemberian insentif serupa juga dilakukan berbagai negara dunia, sebagai upaya meningkatkan gairah konsumen untuk segera bermigrasi ke kendaraan listrik. Sebagai contoh, pemerintah China memberikan insentif berupa pembebasan pajak penjualan kendaraan listrik hingga akhir tahun 2023. Sebelumnya, pemerintah China juga memberikan insentif berupa potongan harga langsung sebesar 10 ribu yuan atau sekitar Rp 18,4 juta bagi konsumen yang membeli kendaraan listrik. Termasuk insentif biaya listrik untuk charge kendaraan listrik dari sekitar 2 yuan per kWh menjadi sekitar 1 yuan per kWh," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (17/12/22).

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menyampaikan selain China, Thailand juga memberikan berbagai insentif serupa. Hal ini termasuk insentif pajak kendaraan termasuk pengurangan bea masuk sebesar 40 persen untuk kendaraan listrik completely built up (CBU) seharga 2 juta baht (USD 61.805). Ada pula insentif pajak kendaraan, termasuk pengurangan bea masuk sebesar 20 persen untuk kendaraan listrik CBU seharga 2 hingga 7 juta baht.

"Dengan memasifkan penggunaan kendaraan listrik, Indonesia bisa mendapatkan banyak keuntungan. Salah satunya menyehatkan APBN, lantaran penggunaan bahan bakar berbasis fosil di Indonesia akan semakin berkurang yang pada akhirnya bisa turut mengurangi subsidi energi di APBN. Sebagai catatan, subsidi energi di APBN 2022 lebih dari Rp 500 triliun. Diyakini beban APBN ini akan berkurang apabila ekosistem kendaraan listrik terbangun," jelas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Bamsoet pun menilai kebijakan tersebut dapat mempercepat migrasi kendaraan listrik sekaligus akan mendatangkan keuntungan bagi bangsa, termasuk pengurangan polusi/pencemaran udara. Hal ini mengingat 60 persen kontributor pencemaran atau polusi udara di Indonesia disebabkan oleh kendaraan bermotor.

Di samping itu, ungkap Bamsoet, pemberian insentif ini juga mampu meningkatkan ketahanan energi nasional dan menekan ketergantungan impor migas, serta merealisasikan komitmen penurunan emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030 dan 0 persen di tahun 2060.

"Data US Geological Survey, cadangan nikel Indonesia mencapai 21 juta metrik ton, dan menjadi yang terbesar sebesar 40 persen dari total cadangan nikel di dunia. Jika dikelola dengan optimal, Indonesia akan menjadi pemain utama supplier baterai kendaraan listrik. BRIN juga sedang mempercepat kajian riset sistem otonom kendaraan berbasis baterai, bahkan pengembangan teknologi masa depan yakni charging tanpa kabel. Berbagai langkah inovasi akan menjadi kunci bagi kemajuan industri kendaraan listrik Indonesia di masa depan," pungkas Bamsoet.



Simak Video "Tak Cuma Mobil-Motor, Pemerintah Juga Pertimbangkan Subsidi Bus Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT