Subsidi Pajak Rp 188 Juta, Mobil Listrik di Norwegia Lebih Murah dari Mobil Bensin

ADVERTISEMENT

Subsidi Pajak Rp 188 Juta, Mobil Listrik di Norwegia Lebih Murah dari Mobil Bensin

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 05 Des 2022 09:05 WIB
Midnight Sun di Norwegia
Norwegia menargetkan hanya menjual mobil listrik dan hidrogen pada tahun 2025. Foto: (Getty Images/iStockphoto)
Jakarta -

Pemerintah Norwegia memiliki target hanya menjual mobil listrik dan hidrogen pada tahun 2025 mendatang. Oleh sebab itu, penjualan mobil listrik pun digencarkan dengan berbagai dukungan insentif dari pemerintah. Kalau dihitung-hitung, insentif ini nilainya bisa mencapai Rp 188 juta.

Norwegia menjadi negara Eropa yang paling serius mencapai target nol emisi. Negara Skandinavia itu tak hanya membangun sumber-sumber energi terbarukan, tetapi juga berusaha 'mendisiplinkan' warganya agar lebih menyukai kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik.

Dilansir dari website Norwegian EV Association, parlemen Norwegia telah memutuskan bahwa pada 2025 Norwegia hanya menjual mobil baru yang bebas emisi, entah mobil berbasis listrik maupun mobil berbasis hidrogen.

Disebutkan hingga Februari tahun 2022, sebanyak 470.000 mobil listrik berbasis baterai (BEV) telah beredar di jalanan Norwegia. Berbagai insentif yang diberikan oleh pihak pemerintah, membuat masyarakat mau beralih ke kendaraan listrik.

Saat ini kebijakan pajak mobil baru yang diterapkan pemerintah Norwegia sangat mendukung mobil listrik berbasis baterai. Pajak pembelian untuk semua mobil baru dihitung dengan kombinasi bobot, emisi CO2 dan NOx.

Pajak tersebut berlaku progresif, sehingga membuat mobil berkapasitas mesin besar dengan emisi tinggi menjadi sangat mahal harganya. Beberapa tahun terakhir, pemerintah Norwegia telah melakukan berbagai penyesuaian pajak secara bertahap, yang menekankan pada aspek emisi dan pengurangan bobot.

Sebagai contoh, harga Volswagen e-Golf lebih murah dibandingkan harga versi bensinnya, Volkswagen Golf. Padahal harga impor e-Golf lebih mahal dibanding harga impor Golf. Harga impor Golf adalah 22.046 euro (Rp 358 juta), sementara harga impor e-Golf yakni 33.037 (Rp 537 juta).

Namun saat dijual resmi ke konsumen Norwegia, harga Volkswagen Golf tembus 34.076 euro (Rp 554 juta), berbanding harga Volkswagen e-Golf (Rp 541 juta). Kok bisa harga e-Golf lebih murah Rp 13 juta dari harga Golf? Kuncinya ada di insentif.

Jika melihat tabel di bawah, Volkswagen e-Golf tidak dikenakan pajak CO2 tax, NOx tax, termasuk juga pajak bobot kendaraan (weight tax), dan Value Added Tax (VAT) 25% atau kalau di Indonesia namanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Volkswagen e-Golf hanya dikenakan scrapping fee senilai 249 euro (Rp 4 juta).

Sementara Volkswagen Golf yang masih menggunakan mesin konvensional masih dikenakan berbagai insentif pajak, CO2 tax (113 g/km) 4.348 euro, NOx tax, 206 euro, Weight tax 1.715 euro, Scrapping fee 249 euro, dan yang paling besar VAT 25% yang nilainya mencapai 5.512 euro. Kalau ditotal, nilai pajak tersebut mencapai Rp 192 juta.

Menilik Volkswagen e-Golf yang hanya diberi beban scrapping fee (Rp 4 juta), maka insentif yang diberikan pemerintah ke mobil listrik, nilainya bisa mencapai Rp 188 juta! Jadi tak heran jika harga mobil listrik di Norwegia lebih murah dibanding mobil bensin atau diesel.

Insentif pajak mobil listrik di NorwegiaInsentif pajak mobil listrik di Norwegia Foto: Dok. Norwegian EV Association


Simak Video "RI Subsidi Rp 80 Juta untuk Mobil Listrik, Bagaimana Negara Lain?"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT