Selama Pandemi, Orang Lebih Banyak Jual Mobkas atau Beli Mobkas?

Luthfi Anshori - detikOto
Selasa, 27 Jul 2021 19:58 WIB
Diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil baru mulai berlaku Maret 2021. Di sisi lain, diskon itu memberi dampak bagi penjualan mobil bekas.
Selama pandemi lebih banyak orang jual mobil bekas atau beli mobil bekas? Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) yang sudah berlangsung di Indonesia lebih dari setahun telah menimbulkan krisis ekonomi. Dari sisi pasar mobil bekas atau mobkas, apakah banyak masyarakat yang menjual mobil pribadinya atau justru lebih banyak yang membeli mobkas?

Terjadinya pandemi membuat kegiatan dan mobilitas manusia dibatasi. Sejak terjadinya pandemi pada awal-awal 2020 lalu, hingga hari ini, pemerintah telah melaksanakan sejumlah program pembatasan sosial untuk menekan penularan virus Corona, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Country Head Carsome Indonesia, Delly Nugraha, mengatakan bahwa dengan adanya program PSBB maupun PPKM, membuat industri penjualan mobil bekas cukup terdampak, karena banyak orang menahan membeli mobil atau menjual mobil.

"Kalau kita melihat selama pemberlakuanPPKM, apakah lebih banyak orang jual mobil bekas atau beli mobil bekas? Sebenarnya dampak di marketnya itu cukup mengena ke dua-duanya. Jadi dua-duanya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja," ungkap Delly, dalam konferensi pers secara virtual, Senin (27/7/2021).

Menurut Delly, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berlaku, banyak orang menahan membeli mobil di showroom-showroom mobkas. Selain karena alasan menuruti aturan pemerintah, mereka juga memang tidak ingin bertatap langsung dengan pembeli.

Dealer Mobil Bekas Bimmerhaus yang fokus menjual BMW bekasIlustrasi Dealer Mobil Bekas Bimmerhaus yang fokus menjual BMW bekas Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

"Jadi misalkan kita lihat dari sudut pandang Carsome, orang yang pengin jual mobil itu kita melihat bahwa terjadi penurunan. Tapi penurunannya mungkin bukan karena mereka tidak mau, tapi karena mereka menahan dulu, karena untuk proses menjual mobil sendiri kan tidak semua orang nyaman dilakukan selama PPKM. Misalnya harus ketemu sama inspector kita, harus bertatap muka dengan orang yang mau beli. Ini diutarakan oleh customer-customer yang memang akhirnya mau ketemu kita, tetapi mereka kasih gambaran bahwa mereka awalnya ragu-ragu. Jadi memang berdampak," sambung Delly.

Kondisi serupa juga terjadi pada konsumen yang ingin membeli mobil bekas. Mereka juga menahan pembelian karena selama pandemi berlangsung lebih sering berada di rumah, sehingga membeli kendaraan baru tidak menjadi prioritas.

"Begitu pula juga bagi yang ingin beli mobil bekas. Selama PPKM orang juga cenderung menahan membeli mobil bekas, kenapa saya harus beli sekarang. Karena saya juga belum butuh, mobilisasi saya terbatas, saya kerja dari rumah, anak-anak juga sekolah dari rumah. Jadi ada yang niatnya membeli, akhirnya tertunda dulu. Ini tak hanya terjadi saat PPKM Darurat, tapi juga telah terjadi selama PSBB. Jadi ini sebenarnya fenomena yang berulang," tukasnya.

(lua/lth)