Krisis Chip Masih Melanda, Produksi Daihatsu Tak Terkendala

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 18 Jun 2021 13:57 WIB
Daihatsu memproduksi Toyota Calya dan Sigra di Karawang, tepatnya di Kawasan Industri Surya Cipta, Jl. Surya Pratama Blok I Kav. 50. Yuk kita intip seperti apa pabrik ini.
Pabrik mobil Daihatsu. Foto: Khairul Imam Ghozali
Jakarta -

Industri otomotif global tengah dilanda kelangkaan chip semikonduktor. Pabrikan otomotif di Indonesia sedikit banyak terpengaruh dengan kelangkaan chip ini. Tapi, produksi mobil diklaim aman.

Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui kekurangan pasokan semikonduktor membuat produksi mobil di Indonesia menjadi tersendat. Meski begitu, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) yang memproduksi mobil-mobil Daihatsu dan beberapa mobil Toyota mengklaim bahwa produksinya sampai saat ini masih aman.

"Sampai hari ini pabrik Daihatsu masih berproduksi dengan normal," kata Direktur Pemasaran PT ADM Amelia Tjandra dalam konferensi pers secara virtual.

"Memang benar di dunia terjadi krisis chip, di dalam krisis ini principal melakukan alokasi. Dan sampai hari ini Daihatsu masih berproduksi dengan normal karena principal masih memberikan alokasi chip untuk Indonesia," sebut Amel.

Sehingga, pabrik Daihatsu mencoba memaksimalkan pasokan kendaraan ke dealer-dealer. Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso menyebut, masa tunggu atau inden pemesanan mobil Daihatsu tak lebih dari dua bulan.

"Rocky itu mungkin 1-2 bulan customer menunggu untuk bisa mendapatkan unit yang matching seperti yang mereka request. Apakah itu normal? Sebenarnya buat produk baru itu normal. Untuk model-model lainnya, Xenia customer harus bersabar 1-1,5 bulan masa indennya tergantung varian dan tipenya. Terios 1,5 sampai 2 bulan," sebut Hendrayadi.

Sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengakui krisis semikonduktor juga melanda industri otomotif Indonesia. Tapi, dampaknya tidak terlalu besar.

"Kenapa begitu? Di Jepang misalnya, kendaraan yang dijual itu euro levelnya sudah tinggi jadi emisi gas buangnya sudah bersih, apalagi kalau mereka hybrid dan plug-in hybrid itu semikonduktornya banyak yang digunakan, apalagi kalau kendaraan listrik itu tinggi sekali penggunaan semikonduktornya. Di Indonesia kan lebih banyak kendaraan-kendaraan umum (menggunakan mesin konvensional sehingga tidak terlalu berdampak), jadi pemakaian semikonduktor ada tapi tidak terlalu banyak," jelas Nangoi.



Simak Video "Mulai dari Rp 185 Juta, Ini Daftar Harga Daihatsu Rocky 1.2"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)