Rabu, 16 Sep 2020 09:20 WIB

Tahun 2024, Indonesia Produksi Baterai Kendaraan Listrik

Tim detikcom - detikOto
Mitsubishi memperkenalkan mobil ramah lingkungan mereka di arena GIIAS 2019. Mobil itu adalah Mitsubishi Outlander PHEV. Penasaran? Yuk, lihat. Mobil listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Indonesia juga akan memproduksi baterai kendaraan listrik sendiri. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Bahkan, komponen inti kendaraan tanpa bahan bakar fosil itu akan diproduksi di dalam negeri.

Hal itu ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Seperti diberitakan Antara, Luhut mengatakan, ditargetkan pada 2024 Indonesia sudah bisa memproduksi baterai litium tipe 811.

Menurut Luhut Indonesia telah menandatangani kerja sama investasi pengembangan baterai litium dengan LG Chem dan CATL yang merupakan perusahaan asal Korea Selatan dan China yang memproduksi baterai untuk kendaraan listrik.

"Kami sudah tanda tangan (pengembangan) lithium battery dengan LG Chem dan CATL. Itu proposalnya sudah dibuat. Di samping itu skala project, timeline, sudah ada, investasi, insentif, semua sudah kita siapin. Kita berharap tahun 2024 kita sudah produksi lithium battery tipe terakhir yaitu 811," ujar Luhut.

Luhut menyinggung bahwa Indonesia sudah berpuluh tahun mengekspor material mentah. Padahal, bahan baku itu bisa diolah di dalam negeri.

"Ini salah satu smelter tembaga, berpuluh tahun, hampir 50 tahun, semua kita ekspor saja. Maka saya lapor ke Presiden, 'Pak sekarang kita harus paksa, kita harus bikin smelter di sini.' Dan sekarang bikin smelter, satu di Gresik, tapi tidak jadi-jadi," katanya.

Akhirnya, lanjut Luhut, pemerintah mendorong agar bisa dibangun smelter di Halmahera Tengah, bahan baku tembaga diambil dari Timika. Menurut dia, karena ada industri terintegrasi di Halmahera Tengah, diharapkan biaya produksinya juga akan lebih rendah.

"Kalau kita lakukan ini, kita akan dapat lagi nanti kabel tembaga, pipa tembaga, dan satu yang penting, asam sulfat. Ini kita butuhkan untuk bagian baterai litium. Jadi 75-80 persen baterai litium itu akan kita punya di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Luhut mengatakan saat ini momentum Indonesia untuk mengembangkan industri mobil listrik. Sebab, bahan baku pembuatan mobil listrik semuanya ada di Indonesia.

"Nah mobil listrik ini, sekarang. Saya salah satu yang paling ngotot mengenai hal ini. Kenapa? hampir 96 persen, itu mobil di Indonesia dipakai mobil Jepang, ndak ada mobil lain," ungkap Luhut beberapa waktu lalu.

"Sekarang dengan masuk mobil listrik, kita bisa masuk jadi pemain. Mobil dalam negeri," tegasnya.

Menurut Luhut kandungan di bumi Indonesia bisa menjadi bahan baku pembuatan mobil listrik, mulai dari sasis hingga baterainya. Terlebih, membuat mobil listrik tidak serumit membuat mesin bahan bakar.

"Kenapa? karena dia (mobil listrik) hanya butuh lithium baterai, dan kedua motornya saja, dia tidak butuh engine," kata Luhut.



Simak Video "Mobil Listrik Termurah! Fiturnya Sangat Memuaskan "
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com