Senin, 27 Apr 2020 03:42 WIB

Puluhan Ribu Angkutan Umum Tertidur, Ratusan Ribu Awak Dirumahkan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rekayasa lalu lintas diterapkan di akses keluar Terminal Bus AKAP Kampung Rambutan. Rekayasa lalu lintas ini untuk mencegah penumpukan kendaraan. Tak sedikit awak angkutan umum yang terdampak pandemi COVID-19. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Efek dari pandemi virus Corona (COVID-19) membuat transportasi umum di berbagai wilayah tertidur. Soalnya, transportasi umum dikhawatirkan menjadi lokasi penularan virus Corona. Karenanya, operasional angkutan umum dibatasi.

Ketua DPP Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, menjelaskan, efek dari pandemi virus Corona ini sangat memukul industri transportasi umum. Di Jakarta sendiri, awak angkutan yang terdampak, menurut Shafruhan mencapai 150.000 orang lebih.

"Karena armada angkutan khususnya untuk orang aja itu ada 62.000 lebih. Lalu dikalikan dua, satu armada dua orang plus kenek, itu kurang lebih 150.000 orang. Ini yang kita khawatirkan justru kita nggak tahu jelas kapan selesainya COVID-19 ini," kata Shafruhan dalam diskusi melalui video conference bersama Institut Studi Transportasi, Minggu (26/4/2020).

Menurut Shafruhan, setidaknya 62.000 unit armada angkutan umum di DKI Jakarta itu sudah tertidur. Dampaknya sudah terasa sejak Januari.

"Khususnya yang pariwisata itu Februari sudah 100%," ujar Shafruhan.

"Saya ngobrol dengan beberapa operator yang kuat dan besar, cashflow mereka mungkin maksimal tinggal 2 bulan lagi. Berarti kan setelah lebaran lah ini tidur semua. Nah untuk bangkit itu bagaimana? Karena kita tahu transportasi publik itu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak baik yang formal, lebih-lebih yang informal," sebut Shafruhan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Angkutan Pariwisata (Pawiba) Bali, Nyoman Sudiarta, mengungkapkan pariwisata di Bali mulai terdampak sejak Februari 2020. Penggunaan angkutan pariwisata di Bali anjlok hingga tak ada sama sekali.

"Jadi mulai Februari, Maret, April ini kita sudah 100% tidak beroperasi. Sudah tidak ada tamu yang hadir, karyawan sudah dirumahkan, sopir-sopir sudah pulang kampung," sebut Nyoman.

Nyoman mengatakan, kurang lebih pihaknya memiliki 1.200 unit armada. Jumlah kru dan pegawainya mencapai 2.000 orang lebih.

"Kondisi pariwisata kami di Bali sudah stuck, collapse. Adapun harapan-harapan kami, terutama kepada pemerintah, supaya kami diberikan satu kebijaksanaan, menyangkut kelangsungan bisnis transportasi ini," katanya.



Simak Video "Satgas Ungkap Efek Libur Panjang Terhadap Kasus Corona di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com