ADVERTISEMENT
Kamis, 29 Agu 2019 15:38 WIB

Kolom

Pasar Indonesia Sudah Siap dengan Mobil Listrik?

Fransiscus Soerjopranoto - detikOto
Fransiscus  Soerjopranoto Foto: dok istimewa Fransiscus Soerjopranoto Foto: dok istimewa
Jakarta - Sebuah langkah positif dilakukan pemerintah Indonesia menuju era penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL), salah satunya melalui ditandatanganinya (Peraturan Presiden) Perpres Nomor 55 tahun 2019 mengenai percepatan program KBL untuk transportasi jalan.

Setidaknya jika menilik salah satu pasal tepatnya pasal 36 pada peraturan tersebut yang mengindikasi bahwa jalannya peraturan ini akan memakan waktu setidaknya setahun setelah Perpres ditandatangani, maka para pelaku industri akan memiliki waktu satu tahun ini untuk memastikan semua faktornya siap sehingga hasil yang didapat pun akan optimal.

Menilik persiapan menuju era KBL yang dapat dikatakan akan berlangsung setidaknya satu tahun dari sekarang, para pemangku kepentingan tampak berlomba-lomba menyiapkan bermacam faktor baik dari segi produk, teknologi yang akan diadaptasi dan proses produksi serta pendukungnya, bahkan rencana investasinya sendiri, yang salah satu harapannya jika bersandar pada Perpres maka insentif akan menjadi faktor yang bisa memberikan pengaruh besar pada rencana penerapan KBL ini.



Industri otomotif, khususnya KBL sama seperti industri lainnya tentu memiliki rantai proses yang cukup kompleks dari hulu ke hilir, berbagai insentif yang mungkin dapat muncul dari Perpres no.55, tentu akan memberikan dampak positif bagi investasi dan juga angka produksi kendaraan di tanah air yang komposisinya akan mulai dimasuki oleh berbagai jenis Kendaraan Bertenaga Listrik (KBL) yang jika berkaca dengan roadmap Kementerian Perindustrian Indonesia dimana 20% dari 1,69 juta pasar otomotif tanah air pada tahun 2025 akan mulai terisi oleh KBL, atau setidaknya akan ada 338 ribu unit KBL yang berpotensi beredar dan dimakan oleh pasar.

Yang menjadi pertanyaan lebih jauh, apakah jumlah produksi dan pilihan lebih banyak KBL yang sudah diinsentifkan akan dapat dikatakan secara optimal berhasil?

Berdasarkan data pemberian insentif kepada KBL di beberapa negara seperti Norwegia, Belanda, China dan juga Amerika Serikat, ternyata tingkat komposisi perkembangan jumlah KBL masih bisa dibilang tidak terlalu tinggi, dimana China, Belanda dan Amerika Serikat masih berkutat di sekitar hanya 3% komposisi KBL berbanding dengan jenis kendaraan lain, praktis hanya Norwegia yang menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dengan hampir 40% komposisi kendaraan di negara tersebut adalah jenis KBL.



Selain menyiapkan produk dan juga teknologi untuk mendapatkan penetrasi yang optimal juga dibutuhkan kesiapan pasar. Perpres tentu akan dapat mendorong pertumbuhan pengadaan KBL dan teknologinya, tetapi akan lebih optimal apabila pasar juga juga disiapkan, artinya harus ada yang memikirkan tingkat marketability juga, dengan begitu akan ada kecocokan yang tepat antara produk yang disediakan dengan kebutuhan pasar sehingga penetrasinya sempurna.

Berdasarkan pengalaman para APM (Agen Pemegang Merek) di Indonesia yang dalam kurun waktu 10 tahun ini sudah memasarkan KBL yang rata-rata berjenis HEV (Hybrid Electric Vehicle), di Indonesia sendiri penetrasi nya belum cukup tinggi, yang artinya merupakan sebuah tantangan besar untuk nantinya mencapai target roadmap di tahun 2025 dengan optimal.

Hingga saat ini setidaknya sudah ada lebih dari 5.400 pengguna jenis kendaraan KBL di Indonesia dan ini masih cukup rendah dimana setidaknya mungkin bahkan tak sampai 1% dari total kendaraan yang ada, sehingga rasanya apabila kita bisa siapkan pasar setidaknya selama setahun ini, maka pada saat nanti dimulainya era KBL penetrasi dan penerimaannya akan lebih optimal.

Meneruskan pengalaman sebelumnya maka cara paling mudah adalah mengeliminasi sejumlah kekhawatiran konsumen akan KBL. Benar bahwa KBL akan memberikan benefit seperti running cost yang murah dan juga perawatan yang lebih mudah, tetapi jangan lupa masih ada beberapa kekhawatiran seperti harga yang relatif tidak murah, kesiapan infrastruktur di berbagai daerah, kemudahan penggunaan seperti charging yang cepat dan beberapa yang lain.

Apalagi kalau mengingat negara kita cukup unik karena kota besar kita terkenal dengan kemacetan, tetapi ada juga budaya mudik yang tidak cuma macet, tapi jauh jaraknya dan lama mengemudinya, hal hal ini membuat para konsumen masih akan concern terhadap KBL, maka selain menyiapkan produk ada baiknya kita siapkan marketnya agar nanti ujungnya sama-sama siap maka akan optimal.

Salah satu yang menjadi tugas kami di APM adalah untuk dapat membuat marketability level yang baik antara pilihan produk dan kebutuhan, di mata rantai industri ini kami berada di tengah antara produsen dan juga market, maka kedepannya menurut kami penting juga untuk dapat memilih dengan tepat produk dan teknologi KBL yang ada dan sudah siap menyesuaikan dengan kebutuhan market dan kondisi kondisi lain,maka mari kita dengan sama sama punya setahun untuk salah satunya menyiapkan market dengan mengurangi kekhawatiran konsumen.

Cara untuk menyiapkan pasar caranya bisa bermacam-macam. Selain tentunya memberikan banyak informasi agar tingkat pengetahuan terhadap KBL baik, penyiapan infrastruktur pendukung dan jaringan layanan akan sedikit banyak membantu mengurangi kekhawatiran, satu lagi adalah program benefit yang juga bisa menjadi pemancing sehingga akan jelas terasa perbedaan bagi pengguna KBL dan kendaraan biasa, rasanya berbagai insentif di area hilir ini juga akan banyak membantu nantinya, sehingga tak hanya di area hulu efek positifnya tapi lebih total.

Fransiscus Soerjopranoto
Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor


Simak Video "Ultra Compact BEV, Mobil Listrik Imut dengan 2 Penumpang"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com