Selasa, 16 Apr 2019 17:50 WIB

Kenapa Pemain LCGC Cuma dari Merek Jepang?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
LCGC Toyota Agya. Foto: Toyota LCGC Toyota Agya. Foto: Toyota
Jakarta - Industri otomotif Indonesia saat ini diramaikan oleh mobil di segmen kendaraan bermotor hemat energi harga terjangkau (KBH2) alias Low Cost and Green Car (LCGC). Namun, mobil yang masuk program LCGC cuma dari pabrikan Jepang.

Saat ini setidaknya ada beberapa LCGC, antara lain Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, Datsun GO Panca, Datsun GO+ Panca, Karimun Wagon R, dan Honda Brio Satya. Kenapa tidak ada merek selain Toyota, Daihatsu, Datsun, Suzuki dan Honda yang bermain di segmen LCGC?



"Waktu LCGC dibuat itu terjadi suara-suara negatif. Kok yang dapat kesempatan, yang bisa bikin (LCGC) hanya Toyota, Daihatsu, Suzuki dan sebagainya? Kita sebenarnya sama, yang mau buat ya silakan buat aja LCGC. Kalau masuk ke LCGC ya nggak apa-apa. Tapi mereka (merek lain) tidak mau masuk ke LCGC. Kenapa? Karena itu tulang, bukan daging. Kenapa saya bilang tulang? Tulang secara profitability (keuntungan) nggak mengenakkan. Kalau ditanya yang paling enak mana, jelas yang paling enak yang (mobil) premium. Tapi makin ke bawah udah tulang semua profitnya," kata Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto.

Soerjo melihat tren beberapa agen pemegang merek yang lebih memilih segmen low MPV dan SUV. Pendatang baru pun tak ada yang bikin LCGC baru.

"Kalau (mobil) China mau buat LCGC kenapa nggak buat LCGC? Kenapa (pabrikan) China bikin MPV Low lebih turun (harga lebih murah), SUV lebih turun (lebih murah), kenapa nggak bikin SUV aja yang LCGC?" kata Soerjo.



Menurut Soerjo, penjualan LCGC saat ini mengalami penurunan, meski turunnya tidak besar. Dulu, program LCGC dibuat agar masyarakat bisa memiliki pilihan kalau ingin beralih dari penggunaan sepeda motor ke mobil yang lebih murah.

"Menurut saya pribadi, tergantung (merek mobil tertentu) mau masuk apa nggak ke market (LCGC) itu. Kalau lihat sekarang makin nggak berani masuk ke LCGC. Kenapa? Karena udah MPV Low, pasar motor lagi berkembang, public transportation udah bagus, udah ada (taksi dan ojek) online, nggak ada kebutuhan lagi untuk (beralih) dari motor ke mobil (LCGC)," sebut Soerjo.



Lantas, kalau keuntungan tidak mengenakkan kenapa Toyota mau jualan LCGC?

"Kita ada kewajiban waktu itu untuk membantu pemerintah, dalam hal motorisasi. Temanya motorisasi, supaya orang dari yang punya motor supaya bisa beli mobil. Tapi kalau ditanya ke depan gimana, saya bilang makin turun kalau pemerintah tidak kasih insentif atau regulasi lagi akan turun," ujar Soerjo. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com