Toyota mengatakan akan memberikan lisensi pada hampir 24,000 paten teknologi yang digunakan di Prius. Tak hanya itu, Toyota juga menawarkan pasokan komponen dengan para pesaingnya termasuk motor.
Baca juga: Toyota-Suzuki Kolaborasi, Tapi Tetap Saingan |
"Kami ingin melihat lebih dari sekadar memproduksi kendaraan jadi. Kami ingin berkontribusi pada peningkatan penggunaan (mobil listrik) dengan menawarkan tidak hanya teknologi kami tetapi juga komponen dan sistem kami yang ada kepada pembuat kendaraan lain," ujar Wakil Presiden Eksekutif Toyota, Shigeki Terashi kepada wartawan, Rabu (3/4/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah Toyota untuk membuka patennya menunjukkan keyakinannya bahwa hibrida adalah alternatif yang efektif. Mengingat efisiensi bahan bakar hibrida bisa lebih hemat dua kali lipat jika dibandingkan dengan mobil bensin, selain itu mobil hibrida pun tak perlu pengisian daya sehingga tidak ada biaya pengembangan fasilitas pengisian daya.
Hingga saat ini terhitung 80% persen kendaraan hibrida yang tersebar di dunia adalah mobil hibrida bermerek Toyota.
"Toyota telah menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan dengan melindungi teknologi hibrida mereka selama bertahun-tahun. Ini mencegah difusi. Dengan ini teknologi hibrida akan semakin mudah diterima oleh masyarakat jika perusahaan lain menggunakannya," kata kepala riset transportasi Asia di Macquarie Securities, Janet Lewis.
Baca juga: 8 Poin Kerja Sama Toyota-Suzuki |
Sejak memelopori Prius pada tahun 1997, Toyota telah menjual lebih dari 13 juta hibrida, yang menggabungkan mesin bensin konvensional dengan motor listrik. Hibrida mampu menghemat bahan bakar dengan menyimpan energi selama berkendara dan bisa digunakan kembali untuk menggerakkan tenaga melalui sumber energi listrik.
Para produsen mobil dunia juga telah dalam tahap untuk beralih ke tenaga listrik karena semakin banyaknya negara memangkas emisi kendaraan hingga setengahnya pada tahun 2030. Meskipun demikian banyak yang mengatakan bahwa beralih ke mobil bertenaga listrik sepenuhnya akan memakan waktu lama karena tingginya biaya produksi baterai.
Lewis di Macquarie mengatakan para pembuat mobil di China dan Eropa mungkin ingin mengakses paten kendaraan hibrida Toyota. Penggunaan paten ini bisa diterapkan pada lini produksi mereka untuk diturunkan di pasar yang masih kesulitan membeli mobil listrik.
Sementara itu, Toyota juga sedang berjuang mengembangkan kendaraan sel bahan bakar hidrogen (FCVs) sebagai kendaraan nol-emisi pamungkasnya. Oleh karena itu di atas kertas Toyota bisa dikatakan cukup tertinggal dari pesaingnya yang telah banyak membuat mobil bertenaga listrik sepenuhnya. (rip/dry)












































Komentar Terbanyak
Prabowo Minta Potongan Ojol di Bawah 10%: Kalau Tak Mau, Jangan Usaha di RI
Pelajaran dari Oknum TNI Lawan Arah, Ngamuk Gebrak Ambulans
Pernyataan Taksi Green SM usai Kecelakaan Kereta di Bekasi