Selasa, 05 Mar 2019 15:36 WIB

Lipsus

Pakai Reaktor Belum Mungkin, Kalau Nuklir Featuring Kendaraan Listrik?

Ridwan Arifin - detikOto
Nuklir jadi bahan bakar mobil? Foto: Andhika Akbarayansyah Nuklir jadi bahan bakar mobil? Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Kendaraan bertenaga nuklir dirasa belum bisa dimaksimalkan dalam waktu dekat, Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto menilai belum ada teknologi keamanan yang menjamin bila reaktor murni nuklir benar-benar tersemat dalam kendaraan.

"Prospek kita ke depan, masih mencari teknologi yang tepat apakah nuklir benar-benar aman atau tidak. Karena fokus ahli nuklir sekarang bagaimana menciptakan suatu reaktor sekecil-kecilnya," kata Djarot kepada detikOto saat berbincang di Gedung BATAN, Tangerang, Banten.



Terlebih soal bentuk dan keamanan, pria berusia 56 tahun ini menceritakan bahwa pabrikan Ford sempat membuat mobil nuklir sekitar tahun 1950-an. Namun karena efisiensi sehingga proyek tersebut tidak berlanjut hingga saat ini.

"Jadi reaktor nuklir bisa digunakan pada kendaraan tetapi butuh perisai yang sangat tebal sekali," kata Djarot.



Walhasil karena perlindungan untuk senyawa radioaktif yang optimal sangatlah tebal. Hal itu berpotensi kendaraan mendapat tambahan bobot yang banyak hanya untuk lapisan pelindung ini. "Sehingga kurang ekonomis," kata Djarot.

Namun ia tidak menutup mata, teknologi nuklir masih menjadi isu kontroversi di tengah masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Untuk masuk ke ranah industri otomotif, kata Djarot, hal tercepat yang bisa dilakukan adalah membangun Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir. "Butuh waktu 8 tahun minimal untuk membangun PLTN," ujar Djarot.



Ia melihat hal yang lebih realistis jika kendaraan berbahan bakar nuklir bila ingin diwujudkan dalam waktu dekat, hal utama yang dibisa dilakukan adalah membangun PLTN yang menghasilkan energi listrik, tanpa perlu memodifikasi baterai kendaraan.

"Mobil listrik tetap menggunakan baterai biasa baik itu lithium-ion atau yang lainnya tapi nge-charge nya itu menggunakan tenaga yang bersumber dari PLTN jadi ada stasiun-stasiunnya," ujar Djarot. (riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed