Selasa, 05 Mar 2019 12:46 WIB

Lipsus

Kendaraan kalau Mau Pakai Nuklir Butuh Reaktor Mini

Ridwan Arifin - detikOto
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Tangerang - Tenaga nuklir bisa menjadi alternatif penggunaan bahan bakar. Terlebih tenaga yang dihasilkan dari reaktor nuklir sudah mulai digunakan pada berbagai bidang yang cakupannya lebih kecil dan bisa dibawa kemana-mana.

Peneliti Senior Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengungkapkan bahwa bukan tidak mungkin jika reaktor nuklir mini yang dipasang di mobil berubah menjadi energi listrik.



"Fokus sekarang ahli nuklir saat ini adalah menciptakan suatu reaktor sekecil-kecilnya istilahnya portabel. Dengan cara itu dan bisa diterima masyarakat baru kita bisa masuk ke ranah otomotif," tutur Djarot kepada detikOto di di Gedung BATAN, Tangerang, Banten.

Ia menjelaskan sifat dari bahan baku nuklir yang memberikan efek waktu habis yang lama sehingga pengisian bahan baku nuklirnya akan diisi lagi setelah mungkin 6 bulan bahkan bisa lebih lama lagi.

Satu hal yang menjadi catatan Djarot, selain menyimpan efisiensi dan efektivitas energi. Nuklir juga menyimpan bahaya yang super dahsyat, yaitu terjadi ledakan bila terjadi tabrakan atau kebocoran.

Dengan bentuk reaktor nuklir seperti saat ini, dirasa masih jauh dari harapan untuk bisa memiliki kendaraan nuklir di masa depan.

Reaktor nuklir BATANReaktor nuklir BATAN Foto: dikhy sasra


"Karena butuh waktu yang panjang untuk menemukan suatu bahan di mana perisainya menjadi tipis dan kuat dan risiko saat tabrakan tidak menjadi bocor," tutur Djarot.

"Jadi reaktor nuklir bisa digunakan pada kendaraan tetapi butuh perisai yang sangat tebal sekali," kata Djarot.

"Pengamanannya sedemikian besar dan ketat sehingga tidak ekonomis untuk dijadikan kendaraan bermotor," kata Djarot.

Pun akhirnya ia melihat hal yang lebih realistis jika kendaraan berbahan bakar nuklir bila ingin diwujudkan dalam waktu dekat, hal utama yang bisa dilakukan adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang menghasilkan energi listrik, tanpa perlu memodifikasi baterai kendaraan.

"Mobil listrik tetap menggunakan baterai biasa baik itu lithium-ion atau yang lainnya tapi nge-charge-nya itu menggunakan tenaga yang bersumber dari PLTN jadi ada stasiun-stasiunnya," ujar Djarot.



Tonton juga video Walau Tak Sejalan, Trump Yakin Kim Tak Uji Coba Nuklir:

[Gambas:Video 20detik]

(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed