Namun Direktur Administrasi PT Toyota Motor Facturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan hal itu masih butuh banyak persiapan terutama pada regulasi Free Trade Agreement (FTA).
"Kalau untuk memperluas ekspor kita harus lihat beberapa hal, terutama kita punya nggak free trade dengan negara tujuan. Kalau Thailand dan Australia itu sudah punya, kita kan masih proses. Sementara Australia sudah tutup duluan nih pabriknya dan dilimpahkan ke kita," papar Bob.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, menurut Bob, daya saing yang ditentukan oleh kedalaman dari industri dan supply chain yang kuat merupakan hal yang tidak kalah pentingnya untuk dapat meningkatkan ekspor.
"Itu saling berkaitan (kedalaman industri dan supply chain). Bila itu sudah kuat, daya saing kita juga akan menguat sehingga ekspor akan melebar," papar Bob.
Sementara pada sisi pemerintah, segala kebijakan pun mulai terbit seperti penurunan Pajak Penambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) yang merupakan respons dari menurunnya pasar kendaraan sedan. Kebijakan baru tersebut diharapkan dapat menumbuhkan pasar yang nantinya mampu meningkatkan peforma ekspor Indonesia.
"Sepanjang keputusan pemerintah itu untuk membesarkan pasar, memperluas jangkauan industri otomotif, kami pasti dukung. Oke saja. Tapi kalau untuk memperluas jaringan ekspor, kita harus bekerja lebih keras lagi," tutup Bob. (ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun