Bagaimana Kelanjutan Mobil Gas di Indonesia?

Bagaimana Kelanjutan Mobil Gas di Indonesia?

M Luthfi Andika - detikOto
Jumat, 10 Feb 2017 15:32 WIB
Bagaimana Kelanjutan Mobil Gas di Indonesia?
Foto: detikcom
Jakarta - Beberapa waktu lalu banyak kalangan yang mulai mengembangkan mobil berbahan bakar gas (CNG/Compressed Natural Gas) atau menggunakan konverter gas. Terus bagaimana kelanjutannya?

Seperti kita tahu menggunakan gas memang bisa mengurangi emisi, namun salah satu tantangan adalah masalah tabung gas yang menyita tempat di bagasi kendaraan. Atau juga pandangan masyarakat yang takut gas bisa meledak, belum soal garansi yang hilang kalau pengguna mobil memodifikasi mobilnya memakai konverter gas.

Bagaimana Kelanjutan Mobil Gas di Indonesia?Foto: detikcom


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"CNG? Jadi ini masuk ke dalam teknologi. Mungkin untuk menekan emisi itu banyak, bermacam-macam caranya. Misalnya seperti BMW ini bicara soal teknologi engine, mungkin mesin konvensional dikombinasikan dengan mesin modern, mesin konvensional dengan gas, artinya perpindahan dari kendaraan itu harus disepakati, contohnya kendaraan umum sekian penumpang itu harus menggunakan gas. Itu harus kita sepakati dulu," ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Putu, di kantor Kemenperin Jakarta.

"Di Focus Group Discussion (FGD) berikutnya Perhubungan harus ikut. Karena ini juga bisa memecahkan masalah. Misalnya daerahnya kita bagi, untuk daerah-daerah semua kendaraan umum menggunakan gas. Kalau sekarang kan kita converter kit, ini ada masalah lagi. Karena si pemilik mesin merasa, ini bukan dari pabrikan ini bisa merusak garansi, jadi banyak yang takut menambahkan converter kit," tambah Putu.

Namun jika ada pabrikan yang sudah ada yang memproduksi kendaraan gas, ini menjadi langkah bagus untuk bisa menekan emisi karbon.

"Tapi kalau memang didesain (produksi-Red) menggunakan gas, seperti Hino yang pasti CNG dan ini tidak perlu BBM lainny. Hal kedua, itu yang lebih penting lagi mengenai usia, kendaraan tua yang boleh jalan itu usianya berapa, dan pajaknya lebih mahal (untuk kendaraan tua-Red). Semacam ini perlu didiskusikan juga," kata Putu.


(lth/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads