Mayoritas warga sini merupakan keturunan kerajaan Majapahit, dan mereka masih mempertahankan tradisi Majapahit. Seperti adat jalan joget atau kuda menari, dan melihat adat istiadat ujung-ujungan.
"Ini merupakan Desa tertinggi di pulau Jawa mencapai 2.175 di atas permukaan laut. Suhu pada siang hari bisa mencapai 22 derajat, suhu malam mencapai 17 derajat, Agustus-September 0-8 derajat celcius. Dan ini merupakan salah satu wilayah desa adat di Malang. Khususnya adat Majapahit, karena banyak dari kami keturunan kerajaan Majapahit. Dan kami yang masih melestariskan adat istiadat Majapahit," ujar Kepala Desa, Muljianto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di desa Ngandas mayoritas penduduk memeluk 4 agama, mayoritas Budha, Muslim 40 persen, Hindu 20 persen, dan sisa penduduknya beragama Kristen. Tapi kami semua di sini, tidak meninggalkan adat istiadat, kita boleh beragama apapun, tapi adat istiadat harus terus dilestarikan. Mulai dari kelahiran hingga kematian dilakukan secara adat," ujarnya.
"Seperti adat Petean, adat istiadat ini mengkontrol remaja putra-putri dan duda-janda agar tidak melakukan seks bebas. Kita melakukan kontrol 3 bulan sekali apakah mereka hamil atau tidak, ini kami lakukan sejak 1940. Dan waktu itu bupati Malang melakukan penelitian disini. Kenapa? Karena setiap ada yang hamil di luar nikah akan ikut juga merasakan mualnya atau yang dialami perempuan yang tengah mengandung. Dan yang melakukan ini, akan ada sanksi adat. Seperti untuk perawan dan bujangan harus membayar 50 semen. Selain itu, di desa ini juga tidak diperbolehkan melakukan poligami, karena tidak ada manusia yang bisa adil. Pernah pengalaman yang memiliki istri dua, namun akhirnya istrinya yang harus bekerja," katanya.
Selanjutanya, para risers pun diajak untuk melihat langsung berbagai ritual yang kerap dilakukan masyarakat desa Ngandas.
"Masih banyak lagi adat istiadat yang masih diberlakukan di sini. Seperti tidak boleh melewati atau melangkah tungku dan tidak mau melanggar aturan itu. Karena setiap tahun ada ritualnya, karena pernah ada kejadian ada satu warga menanak nasi. Nasi tumpah tapi di makan akhirnya semua keluarga meninggal dunia. Jadi di sini harus ada upacara mohon ampun dan menghormati para leluhur," katanya.
"Maksud ritual di sini, maksudnya untuk memberitahukan untuk mengenalkan teman-teman yang ada disini kepada yang memiliki desa ini yang tidak terlihat. Memberitahukan kepada para Leluhur bahwa ada orang baru yang sedang berkunjung, karena mereka bisa bertanya dan bertanya tidak seperti kita. Dan ini dilakukan sebagai permisi agar lebih lancar dan tidak terjadi apa-apa, dan untuk mempersatukan yang ada di Ngadas dengan teman-teman yang datang agar tujuannya tercapai," tambahnya.
Pengetahuan akan adat istiadat desa Ngandas pun seakan membuka mata para peserta Datsun Risers Expedition.
Foto: Hasan Al Habshy |
"Keren sekali ada kuda menari, awalnya terlihat mistis, karena ramai-ramai jadi seru. Ini pertama kalinya buat saya, meski dekat dengan kota saya, saya baru pertama kali datang ke Bromo. Selain itu jalanannya tadi sangat ekstrem, tapi ini terlihat cukup baik, sepertinya pemerintah sangat peduli sekali.
Hal senada ini juga disampaikan Hilman risers asal Malang. "Ini sangat bagus, terlebih sambutan pada warga desa tadi. Jarang-jarang ada tamu yang bisa disambut seperti ini. Kalau disambut seperti ini berarti kita diterima dengan ramah. Aku kemari sudah beberapa kali, dan kalau disambut seperti ini baru pertama kali. Ini menjadi pengalaman yang sangat mengesankan, bisa bergabung dengan team mengunjungi desa Ngandas dengan kondisi berbeda, dengan tarian adatnya seperti ini. Kalau diajak seperti ini lagi mau banget," ujar Hilman.
(lth/ddn)












































Foto: Hasan Al Habshy
Komentar Terbanyak
Prabowo Minta Potongan Ojol di Bawah 10%: Kalau Tak Mau, Jangan Usaha di RI
Pelajaran dari Oknum TNI Lawan Arah, Ngamuk Gebrak Ambulans
Pernyataan Taksi Green SM usai Kecelakaan Kereta di Bekasi