Tunda Bangun Pabrik di Indonesia, VW Hengkang ke India

Tunda Bangun Pabrik di Indonesia, VW Hengkang ke India

- detikOto
Selasa, 22 Jul 2014 13:02 WIB
Tunda Bangun Pabrik di Indonesia, VW Hengkang ke India
REUTERS
Wolfsburg - Beberapa waktu lalu, Volkswagen (VW) AG sudah memastikan akan membangun pabrik perakitan di Indonesia. Tapi rencana itu harus ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena kondisi dolar yang terus menguat terhadap rupiah.

Dilansir laman Automotive News Europe, seorang petinggi VW AG memutuskan untuk menanam saham di pasar otomotif India dengan mengucurkan dana sebesar 15 miliar rupe atau setara dengan Rp 2,9 triliun.

Presiden dan Direktur Pelaksana Volkswagen India, Mahesh Kodumudi mengatakan bahwa VW AG ingin meningkatkan hasil produksi dari 130.000 unit menjadi 200.000 unit per tahunnya. Menurutnya, selain merakit mobil juga akan merait mesin secara lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, produsen mobil terbesar kedua di dunia di India memiliki fasilitas produksi di Aurangabad dan Pune.

VW yang sebagian besar bergantung pada keuntungan dari kawasan Asia-Pasifik, sebenarnya tidak memiliki penetrasi pasar yang mendalam di pasar negara berkembang seperti India atau negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Sebelumnya, CEO Volkswagen (VW) Indonesia, Andrew Nasuri mengatakan rencana VW untuk membangun pabrik di Indonesia harus terhenti untuk sementara, karena adanya gejolah mata uang dolar yang belum juga stabil terhadap rupiah.

"VW AG masih mengkaji ulang kembali. Jadi rencana awal itu (mendirikan pabrik) ditunda dulu," tutur Andrew kepada para pewarta otomotif di Jakarta.

Dijelaskan Andrew, dengan kondisi mata uang di Indonesia yang sempat naik dan belum stabil mengharuskan pihak prinsipal menunda untuk membangun pabrik di Indonesia untuk sementara waktu dan sampai waktu yang belum bisa ditentukan karena tergantung dari kondisi di Indonesia-nya itu sendiri.

"Kita lagi tunggu jawaban dari mereka (prinsipal) saja. Tapi dari pihak VW-nya tetap optimis, mereka tetap melihat pasar Indonesia bagus, tapi karena gejolak kurs seperti sekarang ini mereka juga lebih ke arah wait and see," bebernya.

Namun, jika gelojak kurs sudah mulai stabil pihak prinsipal akan mengakji ulang lagi.
Dulu sewaktu berencana untuk membuat pabrik, pihak prinsipal sudah mengkalkulasikan di Rp 13.000 untuk dolar, dan dari Rupiah ke Euro di Rp 12.500, sekarang sudah tembus di Rp 15.800 sampai Rp 16.000.

"Jadi mereka harus mengkaji ulang semua lagi. Tapi jangan khawatir karena prinsipal tetap melihat Indonesia punya potensi pasar yang besar," tuntasnya.

(ady/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads