"Problem terbesar adalah masalah cost of production yang agak tinggi," kata Presiden Direktur PT Hyundai Motor Indonesia Jongkie D Sugiarto.
"Kenapa mobil hybrid lebih mahal? Karena mesinnya dua. Itu sama halnya ketika kita tanya kenapa diesel mahal, ya karena kompresi diesel itu bisa sampai 16-17. Sementara bensin 9. Bensin bisa pakai mesin aluminium, sementara diesel tidak," tambahnya.
Selain itu, dia lalu menyarankan agar para peneliti Indonesia untuk segera meneliti bagaimana membuat baterai mobil listrik yang ringan tapi berharga murah.
"Karena masalah lain dari mobil listrik dan hybrid adalah masalah baterainya. Baterai sekarang masih berat dan mahal, kalau pun ringan, harganya juga lebih mahal lagi. Syukur-syukur kalau insinyur Indonesia bisa buat baterai yang ringan dan juga murah. Alhamdulillah," harapnya.
Jongkie lalu memberi saran pemerintah agar kedua model ini mampu populer di Indonesia yakni dengan memberi insentif terhadap mobil-mobil ramah lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarana dan prasarana mobil hybrid dan listrik pun menurut Jongkie harus segera dipikirkan. Dan karena sarana dan prasarana untuk mengisi ulang tenaga kedua mobil itu belum ada di Indonesia, Jongkie menyarankan agar Indonesia fokus saja dulu di mobil hybrid.
"Jepang saja hybrid dulu, Eropa juga begitu, Amerika juga begitu, masa Indonesia ke listrik. Kalau masalah-masalah itu sudah bisa diatasi, era itu (era mobil listrik) akan datang sendiri," lugasnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun