Komisaris Utama Indomobil Soebronto Laras menjelaskan kalau ada banyak sumber daya yang lebih murah dan mudah bila dibandingkan dengan hybrid bila tujuannya untuk mereduksi produksi emisi karbon dan efisiensi bahan bakar.
"Harusnya pemerintah sekarang membuat tim ahli yang memang mengerti otomotif, tidak langsung buat policy. Saya sudah 40 tahun di industri ini saya masih ingat dulu ada tim ahli otomotif yang dimintai pendapat bila pemerintah ingin membuat suatu aturan. Tapi sekarang tidak ada," kata Soebronto sambil menyebut beberapa nama ahli yang dimaksud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menurut saya, bukan ini (hybrid) jawabannya. Ada CNG, gas. Manfaatkan gas. Pemerintah kan ada program itu lakukan saja. Kita punya gas banyak dan murah. Jual untung saja harganya tidak sampai Rp 4.000 sementara bensin (premium) costnya Rp 9.000 tapi dijual Rp 4.500," jelas Soebronto.
"Karena itu, pemerintah kalau mau bikin aturan harus ada tempat konsultasi dan yang diajak ngomong juga yang mengerti," tandasnya.
Mobil hybrid menurutnya memang terlihat sangat menarik untuk dibicarakan tapi realitas yang ada, teknologi ini bukanlah jawaban tunggal.
"Kenapa hybrid? Karena hybrid kedengarannya keren, masyarakat yang mendengarnya pasti tertarik. Padahal secara cost hybrid tidak bisa lebih murah dibanding mobil biasa karena dia punya dua mesin, jadi costnya keluar untuk dua mesin itu," tuntasnya.
Sementara itu, CEO PT Garuda Mataram Motor (GMM) Andrew Nasuri menegaskan kalau Audi siap untuk mereduksi emisi karbon dan menghemat penggunaan bahan bakar. Audi menurut Andrew sudah memiliki teknologi itu.
"Pertama-tama kita harus ingat kalau niat awal adalah green dan emisi. Kami punya mesin-mesin yang emisinya lebih baik dari hybrid," katanya.
"Kami punya teknologi-teknologi mesin yang bisa bikin produksi emisi rendah dan low emission vehicle ini harganya sama dengan mobil biasa (tidak lebih mahal seperti halnya hybrid)," jelasnya.
"Tapi ada satu problem di Indonesia yakni bahan bakar. Semua mesin Eropa yang sudah maju dan punya emisi rendah butuh bensin Euro4 sementara bensin kita belum sampai situ. Itu yang menyebabkan banyak teknologi maju tidak bisa masuk Indonesia," papar Andrew.
"Tapi kemarin saya bertemu pemerintah di Bali, mereka janji 2014 bensin Euro4 sudah ada di Indonesia. Kita tunggu saja. Kita sangat berharap itu benar karena dengan begitu kita bisa memasukkan mesin-mesin ramah lingkungan," pungkasnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!
Provinsi Ini Bolehkan ASN Mudik Pakai Mobil Dinas, Asalkan Bukan buat Pamer
Sewa Rp 160 Juta/Bulan, Segini Harga Mobil Land Rover yang Dipakai Wali Kota Samarinda