Gaikindo: Konverter Gampang, Sediakan Dulu Gasnya

Gaikindo: Konverter Gampang, Sediakan Dulu Gasnya

- detikOto
Kamis, 19 Jan 2012 11:20 WIB
Gaikindo: Konverter Gampang, Sediakan Dulu Gasnya
Jakarta - Pemerintah saat ini tengah berwacana untuk melakukan konversi kendaraan dari berbahan bakar minyak ke gas. Tapi sebelum itu dilakukan, pemerintah sebaiknya memperbanyak SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas).

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto mengatakan bahwa wacana tersebut akan percuma dan tidak akan berjalan bila tidak ada SPBG yang cukup untuk melayani seluruh kendaraan berbahan bakar gas kelak.

"Bisa saja bila mau dilaksanakan. Pasang converter kit BBG itu gampang. Tidak butuh waktu lama. tapi pertanyaannya, setelah dipasang, mereka mau isi gas dimana?" kata Jongkie di Jakarta, Rabu (18/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut Jongkie menjelaskan kalau saat ini ada dua tipe BBG yang sangat mungkin dipasarkan di Indonesia. Pertama adalah Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquified Gas for Vehicle atau sering disebut Vi-Gas.

"Bedanya apa? CNG itu bahan bakunya gas alam, tapi dikompres dibuat jadi tekanan tinggi hingga 200 bar. CNG ini proses dan harganya murah, tapi bangun SPBG-nya mahal karena SPBG harus ada kompresornya dan disalurkan melalui jaringan gas negara (Perusahaan Gas Negara-PGN)," paparnya.

"Nah masalahnya jaringan PGN di Jakarta hanya ada di Utara dan Pusat. Jadi di Selatan tidak ada," jelasnya. "Untuk membuat SPBG CNG ini hanya butuh dana Rp 10 miliar. CNG yang biasa dipakai busway," tambahnya.

"Kalau LGV itu gas dibuat cair. Ada proses untuk membuat gas ini menjadi cairan dan prosesnya mahal. Tapi bikin SPBG-nya murah karena tidak perlu kompresor, hanya dispenser dan tangki bertekanan 10 bar. Hanya Rp 15 miliar per SPBG," katanya lagi.

Dan bila ingin melakukan kampanye tersebut, maka Jongkie mengatakan kalau ada baiknya bila CNG dipilih untuk menjadi bahan bakar angkutan umum dan angkutan pribadi diberi kebebasan untuk memilih tetap Pertamax atau beralih ke LGV, tapi jangan sampai ke premium.

"Tapi catatannya tetap. SPBG harus diperbanyak. Untuk angkutan umum, harus ada SPBG disetiap jalur yang dilewati angkutan umum. Begitu juga mobil pribadi, harus ada SPBG dimana-mana," tandasnya.

Sebab ada pengalaman buruk yang terjadi di Palembang ketika pemerintah membagikan 2.000 converter kit BBG ke angkutan umum setempat. Setelah kurang dari 3 tahun berjalan, hanya tinggal puluhan angkutan umum saja yang masih setia menggunakan gas.

Alasannya, tidak ada SPBG di jalur mereka yang akhirnya menyebabkan para pemilik angkutan umum ini kembali ke bensin. Lalu masalah timbul lagi karena mobil sering mogok karena belum di-setting ulang.

Jadi bisa dibilang niatan konversi BBM ke BBG yang ingin dijalankan pemerintah masih harus memikirkan banyak hal. Paling tidak populasi SPBG diperbanyak dahulu.

Kalau hal itu terlaksana maka akan banyak penghematan yang bisa dilakukan. Sebab di Jakarta saat ini saja ada 30 ribu angkutan umum yang terdiri dari 20 ribu taksi dan sisanya bus, mikrolet dan lainnya.

Bila setiap angkutan umum dalam sehari menggunakan 25 liter bensin, maka akan ada 750 ribu liter bensin yang di hemat per hari di Jakarta saja. Itu belum ditambah potensi kendaraan pribadi.

"Harga BBG juga harus lebih murah minimal 20-30 persen dari harga bensin termurah seperti premium untuk memancing pemakai," ujarnya.

"Kalau semua dijalankan. Lancar semua. Kalau urusan converter kit mah gampang. Tapi dimana ngisinya," pungkas Jongkie.

Sementara itu seperti dilansir situs Pertamina, Pertamina memiliki 16 SPBG di Jakarta. Yakni:

1 Β Jl. Raya Pluit Pertamina
2 Β Jl. Pemuda
3 Β Jl. Pasar Minggu
4 Β Jl. Tebet Timur
5 Β Jl. Sumenep
6 Β Jl. Margonda Raya
7 Β Jl. Raya Bogor
8 Β Jl. Wr. Buncit
9 Β Jl. Benda Kalideres
10 Β Jl. Sudirman Tangerang
11 Β Jl. Pondok Ungu (PGN) Swasta
12 Β Jl. Pesing (PPD)
13 Β Jl. Danau Sunter
14 Β Jl. A. Yani
15 Β Jl. Daan Mogot
16 Β Jl. Perintis-Kemerdekaan

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads