Hal tersebut diungkapkan oleh Dasep Ahmadi yang merupakan salah satu pengusaha yang telah lama bergerak di bidang otomotif. Salah satu karyanya adalah dengan melahirkan Mobil Rakyat.
"Membuat mobil beda dengan membangun pabrik atau industri mobil. Itu beda. Kalau membuat mobil, semua bengkel karoseri bisa, kalau kita kumpulkan 1.000 bengkel, kita bisa bikin 1.000 mobil," katanya kepada detikOto, Selasa (17/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, kalau Indonesia benar-benar mau membangun sebuah industri mobil nasional yang kuat di masa depan, maka hal itu harus benar-benar dipersiapkan dengan matang. Hal itu juga harus dilakukan dengan pendekatan profesional.
Terlebih, sebenarnya Indonesia sudah punya pengalaman ketika membangun Timor dan Texmaco, hal itu plus-minusnya tentu bisa diambil untuk dipelajari.
"Bila memang mau bersama-sama membangun industri nasional, industriawan harus diberi peran. Karena membangun industri bukan perkara gambang," imbuh Dasep.
"Ibaratnya, bikin ayam goreng itu gampang, tapi membuat industri ayam goreng seperti McD itu kan tidak gampang. Sama seperti mobil," pungkasnya.
Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam catatannya yang berjudul 'Jangan Paksa Tiba-Tiba Makrifat' menjelaskan kalau langkah Indonesia membuat mobil nasional masih bisa diwujudkan asalkah dipegang oleh industriawan yang profesional.
Esemka menurut Dahlan adalah wahana belajar bagi para siswa agar bisa menyongsong masa depan. Sementara PT INKA yang menciptakan mobil nasional GEA dianggap belum siap untuk masuk ke industri otomotif. INKA diharapkan fokus terlebih dahulu di industri kereta api yang kini sedang berkembang dan hanya membuat GEA sesuai dengan pesanan.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas