Lotus yang dahulu mobilnya digunakan oleh James Bond ini dibeli oleh Proton sejak tahun 1996. Tapi sejak itu hingga saat ini, Lotus tidaklah memberi keuntungan finansial bagi Proton bahkan hingga tahun 2014 mendatang.
Kenyataan ini makin pahit setelah ada kabar mengatakan kalau investor-investor di Proton ingin melakukan divestasi terhadap perusahaan pemerintah itu. Investor seperti Gan Eng Peng mengatakan Lotus Group International Ltd adalah matang untuk dijual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar penjualan Lotus sendiri memang sudah menjadi spekulasi. Beberapa waktu lalu Shanghai Automotive Industry Corp membantah laporan surat kabar The Edge yang mengatakan produsen mobil terbesar China itu tertarik pada Lotus.
Dua bulan lalu, Proton juga membantah laporan surat kabar The Star yang melaporkan bahwa mereka akan menjual sahamnya di Lotus ke Luxembourg-based Genii Capital.
Namun, Chief Executive Officer Lotus Dany Taner Bahar yang merupakan mantan eksekutif Ferrari mengatakan bahwa ia yakin bisa membuat Lotus impas pada tahun 2014 asalkan dia memiliki dukungan keuangan.
"Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan ke pemilik saat ini, atau pemilik baru, bahwa kita benar-benar sejalan dengan rencana bisnis yang telah disajikan," kata Bahar.
"Tanpa dukungan dana dan jaminan yang diberikan oleh kelompok Proton, kita tidak akan bertahan hidup, akhir dari cerita," pungkasnya.
Bahar menjelaskan kalau Lotus yang mobilnya ditampilkan dalam film James Bond "The Spy Who Loved Me" pada tahun 1977 dan "For Your Eyes Only" pada tahun 1981, akan terus beralih menjadi kekuatan rekayasa untuk tetap kompetitif.
Phil Gott, seorang analis IHS Automotive yang mengkhususkan diri dalam riset powertrain setuju bahwa teknologi Lotus sangat baik terutama dalam keahlian membuat frame ringan.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1952 oleh penemu Inggris Colin Chapman. Tesla Motors Inc (TSLA) saja telah mengandalkan desain sasis Lotus sejak 2008. Lalu Chrysler LLC juga berencana untuk bekerja sama dengan Lotus untuk memproduksi kendaraan listrik sebelum perusahaan bangkrut pada tahun 2009, dan muncul lagi sebagai Chrysler Group LLC.
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang mendirikan Proton pada tahun 1983 mengatakan bahwa miliarder Syed Mokhtar Al-Bukhary adalah kandidat terbaik untuk membeli saham pemerintah di Proton dan Proton tidak boleh dijual kepada sebuah perusahaan asing. Proton sendiri labanya anjlok 76 persen pada kuartal terakhir.
Untuk bangkit kembali, Lotus membutuhkan sekitar 2,4 miliar ringgit. Sementara Merek tersebut kemungkin bernilai hanya sekitar 1 miliar ringgit. "Setelah itu Lotus akan menguntungkan," ungkap Ahmad Maghfur Usman, seorang analis OSK.
Dan untuk membuat itu terjadi, Lotus harus menjual 8.000 kendaraan per tahun. Angka itu lumayan banyak mengingat Lotus di tahun fiskal yang berakhir Maret lalu hanya sanggup menjual 1.985 unit.
"Proton lebih baik tanpa Lotus," kata Alexander Chia, seorang analis RHB Capital yang berbasis di Kuala Lumpur. "Tidak ada sinergi produk," pungkasnya seperti detikOto kutip dari Bloomberg, Jumat (30/12/2011).
(ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Nasib! Harga BBM Naik, Mobil Listrik Malah Nggak Gratis Pajak Lagi
Isi Surat Edaran Mendagri, Minta Gubernur Se-Indonesia Bebaskan Pajak EV
Provinsi yang Bakal Kenakan Pajak buat Mobil-Motor Listrik