Hal tersebut disampaikan Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/10/2011) malam.
"Yang tujuh sudah keluar, (Minggu) kemarin, hari ini (Senin) juga saya minta Kepala Kantor Tanjung Priok untuk masing-masing menghubungi perguruan tinggi itu untuk bisa menyelesaikan administrasi. Kalau anda mengimpor anda juga tidak menghubungi Bea Cukai, Bea Cukai juga tidak akan memproses. Jadi mereka harus datang ke Bea Cukai menyelesaikan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelihatannya teman-teman mahasiswa ini tidak menghubungi BC tapi malah lebih mementingkan sisi, bahwa Bea Cukai menahan, Bea Cukai melakukan tindakan segala macam. Ini yang harus kita klarifikasi," ujarnya.
Dia menjamin, Bea Cukai tidak membebankan biaya untuk proses pengeluaran ini. "Kenapa bebas, karena dulunya barang dalam negeri, kan sudah selesai dan kita keluarkan, treatment kedua sedang kita proses. Kalau mau keluar tritmen kedua sedang kita proses. Justru sekarang Bea Cukai yang proaktif. Ya, maafkanlah teman-teman mahasiswa kita ini yang mungkin tidak tahu prosedur. Bea Cukai ini kan harus taat asas," ujarnya lagi.
Agung menegaskan biaya tinggi yang mencapai ratusan juta yang dikeluhkan mahasiswa timbul karena mobil itu berada terlalu lama di gudang pelabuhan.
"Itulah yang membuat ongkosnya menjadi mahal. Nah kelihatannya teman-teman mahasiswa ini salah persepsi, seolah-olah bea masuknya menjadi tinggi. Padahal bea masuknya gak bayar. Karena dia kan eks dari dalam negeri. Hanya karena surat menyuratnya, pemenuhan kewajibannya tidak dipenuhi dengan segera sehingga tertumpuk sekian lama, demo rates, tahu demo rates kan, itu kalau tertumpuk terlalu lama di pelabuhan, sewa gudangnya semakin lama, progresif. Itulah yang mengakibatkan dia mendapatkan cost yang lebih tinggi," ujarnya.
Biaya ini tidak dibayarkan ke Bea Cukai melainkan kepada pemilik gudang di pelabuhan. "Nah ini kita sudah coba proaktif si masing-masing itu. Masalahnya mereka kan (mahasiswa) tidak bicara dengan kami, tapi dengan anda-anda (wartawan). Bahwa Bea Cukai menahan, Bea Cukai mengenakan bea masuk. Ini sebetulnya yang harus diluruskan," ujarnya.
Public Relation Eksternal non Teknis tim ITS, Ahmad Nurdin Arpha menuturkan karena terlalu lama di pelabuhan tepatnya selama 2,5 bulan biaya sewa gudang dan kontainer pun membengkak. Biayanya menjadi Rp 105 juta (US$ 9.000 sewa kontainer (Rp 80 juta) plus Rp 25 juta untuk sewa gudang).
"Ini gara-gara ditahan Bea Cukai, jadi biaya sewa kontainer serta gudang membengkak. Padahal seharusnya biaya tidak segitu biayanya," tutur Nurdin.
Nurdin sendiri mengakui saat ini urusan dengan pihak Bea dan Cukai sudah selesai, namun akibat penahanan mobil tersebut berujung pada melonjaknya biaya. Ia mengutarakan seharusnya ini tidak terjadi pada mahasiswa yang tengah melakukan lomba sekaligus riset untuk keperluan universitas.
Pemerintah harusnya memberikan keleluasaan pada mahasiswa Indonesia dan tidak mempersulitnya. Seperti yang dikatakan Nurdin, biaya sewa kontainer dan gudang sebanyak Rp US$ 9.000 (Rp 80 juta) plus Rp 25 juta (sewa gudang). Biaya tersebut dibagi 3 universitas (ITS, UI dan UGM). Jadi Rp 35 juta per universitas.
Selanjutnya mahasiswa tidak memiliki dana Rp 35 juta untuk menembus mobil irit BBM. "Kita masih ragu untuk mengeluarkan uang, mengingat biayanya mahal sekali," imbuh Nurdin.
Saat ini, pihak ITS dan sedang bernegosiasi agar pihak terkait (pihak pelarana dan pelabuhan) untuk menurunkan harga sewa kontainer dan gudang. "Kita belum minta bantuan ke pihak manapun, saat ini sedang terjadi proses negosiasi agar pihak terkait bisa menurunkan harga," ucapnya.
Seperti yang dijelaskan Nurdin, pihak ITS hanya menyanggupi jika pihak terkait memberikan diskon hingga 70 persen. "Harapan kita mereka mau mendiskon hingga 70 persen, karena biaya Rp 105 juta berat sekali," tutupnya.
Tidak Ingin Terulang, Tahun Depan Mahasiswa Gandeng Kemendiknas
Ini sudah tahun ke-2 mahasiswa mendapatkan masalah ketika mengikuti lomba mobil irit BBM ke luar negeri. Untuk menghindari hal buruk tersebut tidak terulang para mahasiswa bakal menggandeng Kemendiknas.
"Tahun depan kita ajak Kemendiknas tujuan agar untuk mempermudah proses lomba," kata Nurdin.
Ia juga menambahkan keikutsertaan Kemendiknas mulai dari awal sampai akhir bisa membantu kepergian hingga kepulangan mobil yang dilombakan dan para mahasiswa. Dengan begitu kejadian hal serupa tidak terulang.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?