βKalau wacana ini benar-benar terjadi dunia otomotif bisa menjadi jeblok hingga 30 persen, impactnya akan luar biasa. Terlebih lagi untuk kendaraan yang berharga Rp 150 jutaan, dampaknya bisa turun 50-55 persen," ungkap Vice President Director PT. Hyundai Mobil Indonesia Mukiat Sutikno di Jakarta.
"Dan saya rasa ini bukan keputusan yang tepat, maaf misalnya seperti ini, kita tahu merek Jepang sedang melakukan investasi tapi kalau itu (uang muka) dinaikkin buat apa ivestasi tersebut. Karena secara otomatis employee-nya meningkat tapi kalau market-nya jeblok, ATPM lainnya jadi mikir untuk berinvest kembali,β jelas Mukiat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila sebelumnya BI mengatur uang muka minimal untuk mendapat kredit kendaraan adalah 10 persen dari harga, maka BI akan menaikkan angka tersebut. Namun bagi mukiat, hal itu bukanlah keputusan yang tepat.
"Menurut data, kalau tidak salah, yang tidak mampu bayar cicilan (Non Performing Loan/NPL) itu hanya 1,5 persen, ini sangat kecil. Kecuali mencapai 15 persen baru kita mencari cara untuk menanggulanginya dan (saat) ini tidak akan terjadi buble. Karena leasing dan bank itu sendiri pun telah melakukan seleksi yang tepat, jadi kenapa industri otomotif kita yang sedang membaik seiring dengan ekonomi kita yang membaik juga harus tertahan,β tutupnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Cabut ke Vietnam, Ribuan Pegawai Kena PHK
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Mau Cabut ke Vietnam, Ini Alasannya
Indonesia Ditinggal Kabur Pabrik Otomotif, Pemerintah Harus Ambil Sikap!