Mobil Listrik China Tak Lagi Jadi Anak Emas, Insentif Dicabut

Mobil Listrik China Tak Lagi Jadi Anak Emas, Insentif Dicabut

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 07 Okt 2026 16:47 WIB
Ilustrasi Mobil China.
Ilustrasi Mobil China. Foto: AFP via Getty Images/STR
Jakarta -

Pemerintah China sudah mulai mengurangi insentif terkait kendaraan listrik. Negara tersebut juga telah memberlakukan kembali pajak konsumsi atas baterai lithium-ion sejak September 2026. Pembebasan pajak pembelian kendaraan pun akan diakhiri 2 tahun lagi.

Asia Nikkei melaporkan, seiring melambatnya pertumbuhan permintaan, produsen mobil di China harus menanggung biaya yang sebelumnya ditutupi oleh insentif. Biaya-biaya tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen. Hal ini dapat memengaruhi struktur pasar otomotif China.

"Pada bulan Juli, otoritas China menyatakan bahwa baterai litium-ion yang digunakan dalam kendaraan energi baru--yang mencakup kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid--kembali dikenakan pajak konsumsi sebesar 2% mulai 1 September. Tarif tersebut akan naik menjadi 4% pada bulan September 2027," demikian diberitakan Asia Nikkei.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, keringanan pajak untuk baterai lithium-ion sudah diperkenalkan sejak 2015. Keringanan itu berupa pembebasan pajak konsumsi sebesar 4 persen. China awalnya menerapkan kebijakan itu untuk mendukung pengembangan industri kendaraan energi baru.

ADVERTISEMENT

Setidaknya 11 tahun berselang, kebijakan tersebut dirombak. Banyak perusahaan diperkirakan akan membebankan biaya tambahan tersebut kepada konsumen. Menurut laporan media China, produsen baterai EVE Energy berencana menambahkan pajak 2% tersebut ke dalam harga jual baterainya.

Menurut sebuah asosiasi industri, China menempati peringkat pertama secara global dalam penjualan kendaraan energi baru (termasuk ekspor) selama 11 tahun berturut-turut hingga tahun 2025. Kendaraan energi baru mencakup 48% dari total penjualan kendaraan baru di China. Hal itu meningkat cukup tajam dari kontribusi 5 persen pada 2020.

Dukungan pemerintah China dan pertumbuhan pasar telah meningkatkan persaingan di antara para produsen otomotif. Hasilnya, banyak model baru yang diluncurkan di China.

Namun, satu per satu kenikmatan kendaraan energi baru di China dicabut. Bahkan, Pemerintah China juga berencana menghapuskan keringanan pajak untuk pembelian kendaraan baru, yang akan berdampak langsung pada harga jual. Sebagai gambaran, pada tahun 2014 hingga akhir 2025, pajak sebesar 10% atas pembelian kendaraan baru sepenuhnya dibebaskan untuk kendaraan energi baru (mobil listrik dan PHEV). Namun, sejak bulan Januari, pembelian tersebut dikenakan pajak sebesar 5%. Pada Januari 2028, tarifnya akan naik menjadi 10%, sama dengan tarif yang berlaku untuk kendaraan konvensional bermesin bakar.

Pajak-pajak ini akan menaikkan harga bagi konsumen. Dikombinasikan dengan penurunan belanja konsumen di tengah kemerosotan sektor properti China, berkurangnya insentif telah memengaruhi penjualan kendaraan energi baru di dalam negeri. Penjualan kendaraan ramah lingkungan di China turun 10% pada paruh pertama tahun 2026. Pengurangan insentif, termasuk yang terkait dengan baterai, juga diperkirakan akan berdampak pada rantai pasokan.



(rgr/dry)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads