Thailand Rombak Struktur Pajak, Mobil Listrik Impor Kena Tarif Gede

Thailand Rombak Struktur Pajak, Mobil Listrik Impor Kena Tarif Gede

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 18 Sep 2026 14:33 WIB
PM Thailand pakai BYD Sealion 7
Ilustrasi mobil listrik di Thailand. Foto: Dok.Thai Enquirer
Jakarta -

Thailand mengambil langkah tegas untuk mengerem laju kendaraan listrik (EV) impor murah. Negeri Gajah Putih itu akan mengenakan pajak tinggi untuk mobil listrik yang diimpor utuh tanpa ada rencana produksi lokal.

Dikutip dari media lokal Thai Examiner dan Thairath, Pemerintah Thailand menuntut produsen mobil asing untuk melakukan produksi di dalam negeri. Ini menyusul tekanan perang harga dari produk China yang mengancam industri otomotif raksasa negara itu.

Thailand akan mengenakan pajak cukai sebesar 30 persen terhadap mobil listrik yang diimpor secara utuh (CBU). Saat ini, Thailand masih mengenakan tarif 10 persen. Ini merupakan langkah Thailand untuk melindungi industri otomotif andalannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan, Ekniti Nitithanprapas, menegaskan bahwa arah kebijakan baru ini sudah jelas, produksi harus dilakukan di Thailand, menggunakan komponen lokal, dan disertai investasi di dalam negeri. Perubahan kebijakan ini dipicu oleh membanjirnya EV murah asal China, perang harga yang sengit, serta meningkatnya keluhan konsumen. Thailand tetap menginginkan kehadiran kendaraan listrik, namun ingin agar jauh lebih banyak unit yang diproduksi di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan rencana tersebut, Thailand akan menerapkan struktur pajak cukai tiga tingkat. Tarif terendah akan berlaku bagi produsen dengan volume produksi domestik yang signifikan dan kandungan lokal Thailand yang tinggi. Tarif menengah akan dikenakan pada importir yang sekaligus sedang mengembangkan operasi manufaktur di Thailand. Terakhir, tarif tertinggi akan dikenakan pada perusahaan yang mengimpor kendaraan jadi tanpa rencana memproduksi lokal di Thailand.

Tarif tertinggi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30%. Dengan demikian, kendaraan listrik impor CBU akan menanggung beban pajak paling berat. Struktur ini juga akan mengurangi ketergantungan Thailand pada subsidi pemerintah secara langsung. Sebaliknya, kebijakan perpajakan akan lebih mengapresiasi investasi, produksi, dan penggunaan rantai pasok lokal Thailand.

Buat para produsen otomotif, perbedaan dampak finansialnya bisa sangat signifikan. Perusahaan yang memproduksi kendaraan dan komponen penting di dalam negeri Thailand akan mendapatkan perlakuan paling menguntungkan. Selain itu, produsen yang menggunakan komponen buatan lokal dalam jumlah lebih besar dapat memperoleh keuntungan tambahan. Produksi domestik untuk komponen utama kendaraan listrik juga akan memperkuat posisi mereka.

Tingkat kedua akan menjadi jalur transisi bagi produsen asing. Perusahaan dapat mengimpor kendaraan pada tahap awal sembari menjajaki pasar Thailand. Namun, kegiatan impor tersebut harus dibarengi dengan rencana investasi dan produksi di dalam negeri. Dengan demikian, struktur ini menyediakan jalan bagi peralihan dari sekadar impor kendaraan menuju kegiatan manufaktur di Thailand.

Sebaliknya, tingkat ketiga menyasar perusahaan yang mengimpor kendaraan utuh semata-mata cuma untuk dijual. Perusahaan semacam itu akan dikenakan tarif usulan sekitar 30%, padahal sebelumnya tarif yang berlaku hanya sekitar 10%. Oleh karena itu, pemerintah Thailand sedang menyiapkan insentif finansial yang kuat agar produsen mau mendirikan fasilitas produksi di dalam negeri.



(rgr/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads