Saat ini, mobil listrik sudah banyak beredar di jalan. Tidak hanya di perkotaan, mobil listrik juga sudah banyak digunakan di berbagai daerah.
Menariknya, tingginya minat masyarakat menggunakan mobil listrik tidak terlepas dari sejumlah faktor, seperti harganya yang lebih kompetitif dan dinilai lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Belum lagi, stimulus dari pemerintah yang diberikan kepada pemilik mobil listrik menjadi daya tarik tersendiri.
Meskipun begitu, tidak sedikit masyarakat yang masih meragukan faktor keselamatan dan keamanan dalam menggunakan mobil listrik. Masih ada masyarakat yang mempertanyakan aspek keamanan, khususnya komponen baterai yang digunakan pada mobil listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak sedikit dari mereka yang masih beranggapan bahwa baterai mobil listrik mudah terbakar. Padahal, sejumlah riset menyebutkan potensi kebakaran pada mobil listrik lebih kecil dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
Survei Battelle yang dilaporkan kepada Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Amerika Serikat (NHTSA) menunjukkan temuan yang cukup menarik terkait keselamatan mobil listrik. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa risiko mobil listrik mengalami kebakaran lebih kecil dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
"Kecenderungan dan tingkat keparahan kebakaran dan ledakan dari sistem baterai lithium-ion diperkirakan sebanding dengan atau mungkin sedikit lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar diesel atau bensin," ujar Ketua Riset Battelle, Steven Risser, dalam laporan yang dikutip dari CNN.
Tidak hanya itu, saat ini para produsen mobil listrik juga terus menghadirkan teknologi untuk mencegah baterai terbakar. Bahkan, sistem pengamanannya telah dirancang secara berlapis.
Akademisi ITB, Yannes Pasaribu, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap risiko baterai terbakar pada mobil listrik. Sebab, mobil listrik sudah memiliki sistem keamanan berlapis untuk berbagai faktor, termasuk baterai.
"Battery Management System (BMS) sesuai ISO 6469-1 (keselamatan kelistrikan) memantau setiap sel baterai secara real-time. Kontaktor tegangan tinggi siap memutus sirkuit saat terjadi anomali, dan sistem pengereman tetap berfungsi meski powertrain mati. Kontaktor tegangan tinggi juga memutus sirkuit saat tabrakan sesuai ISO 6469-3 (proteksi penumpang). Sistem pengereman memiliki redundansi hidrolik sesuai UN R13-H sehingga tetap berfungsi tanpa daya listrik. Kemudi EPS dilengkapi dual-circuit backup sesuai ISO 26262 (functional safety ASIL-D)," kata Yannes.
Dia menambahkan, kehadiran dual-circuit yang memenuhi standar ISO 26262 pada sistem kemudi mobil listrik juga mampu menjaga keandalan kendaraan karena telah diuji dalam berbagai kondisi ekstrem. Meski demikian, ia mengingatkan pengguna tetap harus beradaptasi dan memahami secara lebih mendalam mobil listrik yang ingin dimiliki.
"Semua kendaraan yang dijual secara legal, baik ICE (Internal Combustion Engine/mobil konvensional) maupun BEV (Battery Electric Vehicle/mobil listrik), wajib lulus uji ketahanan elektromagnetik (EMC) sesuai standar ISO 11452 dan CISPR 25 yang mensimulasikan paparan medan elektromagnetik jauh lebih kuat dibandingkan kondisi di perlintasan kereta. Selain itu, masih banyak regulasi internasional lain yang wajib dipenuhi sebelum sebuah BEV dapat dipasarkan ke berbagai negara," tutupnya.
(akd/ega)









































