ESDM Sebut B50 Nggak Bikin Sering Ganti Filter, Ini Alasannya

ESDM Sebut B50 Nggak Bikin Sering Ganti Filter, Ini Alasannya

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 09 Sep 2026 14:35 WIB
Sejumlah dispenser pengisian Biosolar B50 berjajar di Rest Area KM 57 Tol JakartaCikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Program B50 yang mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bertu
Ilustrasi B50 Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut bahan bakar B50 tidak mempercepat pergantian suku cadang filter kendaraan. Apa alasannya?

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan penggunaan campuran biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) 50% ini terbukti aman bagi mesin kendaraan, bahkan filter solar tercatat tidak perlu sering diganti. Hal ini ditemukan saat uji jalan B50 yang dilakukan pabrikan otomotif di Indonesia.

"Filternya yang seharusnya diganti di 10 ribu (km), sampai dengan 37 ribu km itu tidak diganti, dan ini pengujiannya sampai 50.000 (km)," kata Eniya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR dikutip Rabu (9/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini membuktikan bahwa memang bahan FAME-nya B50 itu bagus. Nah, dari sini kami secara waktu 50 ribu (km) itu cukup, tetapi karena Gaikindo dan beberapa asosiasi meminta lebih sehingga saat ini pengujian diteruskan oleh asosiasi sampai dengan 100.000 km dan ini sedang berlangsung," jelas dia.

ADVERTISEMENT

Hasil pengujian ini sekaligus mematahkan kekhawatiran terkait potensi penyumbatan filter pada penggunaan B50.

Eniya melanjutkan adanya peningkatan mutu FAME ini juga terlihat dari perbaikan spesifikasi teknisnya. Dari sekitar 20 parameter yang dievaluasi sejak pengujian B40, salah satu poin paling krusial yaitu kandungan air yang mengalami penurunan signifikan.

Spesifikasi kandungan air pada B40 yang sebelumnya berada di angka 320 ppm (maksimal) kini berhasil ditekan menjadi 300 ppm (maksimal).

Dia melanjutkan standar B50 yang baru ini dibuat lebih ketat dan lebih detail dibanding sebelumnya. Tujuannya biar bahan bakarnya makin aman buat mesin kendaraan.

Pertama, kandungan monogliserida dalam FAME kini diperketat. Dengan kandungan monogliserida yang lebih rendah, risiko pengendapan di filter jadi berkurang. "Monogliserit kandungan yang ada di FAME itu maksimum yang tadinya 0,5% menjadi 0,47% massa," ujarnya.

Eniya melanjutkan stabilitas oksidasi B50 juga tercatat mengalami peningkatan. Jika sebelumnya bahan bakar hanya mampu bertahan dari proses oksidasi selama 720 menit, kini masa ketahanannya meningkat menjadi 900 menit.

"Stabilan oksidasi, jadi ketahanan dari bahan bakar sendiri untuk tidak teroksidasi itu stabil. Dulunya 720 menit, sekarang menjadi lebih lama lagi. Jadi stabilitasnya meningkat menjadi 900 menit," jelasnya.

Eniya menambahkan, standar B50 kini juga dilengkapi dengan dua parameter baru yang sebelumnya belum diatur, yaitu temperatur distilasi dan cleanliness atau tingkat kebersihan bahan bakar.

"Ada tambahan dua parameter yang baru yaitu temperatur distilasi dan cleanliness," pungkasnya.

Soal distribusi B50, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyebut sebanyak 94 persen SPBU di Indonesia atau sekitar 6.050 lokasi sudah menyalurkan B50. Sementara itu, masih ada 362 SPBU yang berada dalam masa transisi penyaluran.

"Respon dari masyarakat untuk B50 secara umum baik itu dari sisi kualitas maupun dari sisi kuantitas itu berjalan dengan baik," kata Ega.

"Call center kami juga terus memonitor atas komplain-komplain yang terjadi dan alhamdulillah sampai dengan saat ini tidak ada komplain yang signifikan dari sisi pengguna B50 khususnya untuk di sektor retail," tambah dia.



(riar/rgr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads