Mitsubishi Fuso Serius Garap Industri Cold Chain, Ini Model Andalannya

Mitsubishi Fuso Serius Garap Industri Cold Chain, Ini Model Andalannya

Luthfi Anshori - detikOto
Minggu, 12 Apr 2026 10:10 WIB
Mitsubishi Fuso Serius Garap Industri Cold Chain, Ini Model Andalannya
Mitsubishi Fuso di GIICOMVEC 2026. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Mitsubishi Fuso serius menggarap industri cold chain di Tanah Air. Moda transportasi logistik berpendingin saat ini dianggap punya peluang menggiurkan yang bisa digarap produsen kendaraan niaga.

Seperti dikatakan Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya, Fuso semakin serius dalam menggarap sektor tersebut melalui ragam produk andalan yang dapat disesuaikan untuk industri cold chain. Adapun dua model yang diandalkan adalah Canter FE 74 dan Canter FE 74 Long.

Kendaraan niaga itu bisa dikonversi oleh karoseri menjadi kendaraan niaga dengan boks pendingin, sehingga dapat menjadi solusi untuk transportasi logistik berpendingin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Industri ini membutuhkan kendaraan yang andal dan fleksibel," bilang Aji ditemui di Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC), Kamis (9/4).

Perusahaan pun disebut tengah mengembangkan layanan khusus kendaraan cold chain, termasuk penanganan sistem boks pendingin di bengkel resmi. Ada pula fitur digital guna memantau kondisi kendaraan dan suhu muatan secara real time.

"Monitoring suhu sangat penting karena perbedaan suhu sedikit saja bisa berdampak besar pada kualitas produk," tambahnya.

Sejalan dengan itu Aji mengatakan pihaknya siap mendukung industri cold chain melalui kesiapan layanan purna jual yang kini tersebar di 225 titik di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan Risal Wasal mengungkap potensi industri cold chain di Indonesia sangat besar akibat peningkatan kebutuhan distribusi logistik modern serta luasnya wilayah Indonesia.

"Dengan tren seperti frozen food dan cloud kitchen, kebutuhan rantai pendingin menjadi krusial," ujar Risal. Meski demikian, Risal mengatakan hal ini dapat menjadi tantangan, sehingga pemerintah perlu hadir di dalamnya.

"Ini peluang sekaligus tantangan. Bagaimana industri transportasi ini pada akhirnya memenuhi standar angkutan yang ditetapkan," katanya.

Ia melanjutkan industri tersebut merupakan peluang yang mampu menghasilkan titik ekonomi, tercermin dari 46 transit oriented development (TOD), 25 kawasan ekonomi khusus (KEK), 204 kawasan industri (KI), dan 59 Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN), dan titik ekonomi lainnya yang butuh dukungan sistem logistik berpendingin.

"Kami mendukung sepenuhnya seluruh layanan," tukasnya.




(lua/riar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads