Kamis, 25 Jul 2019 17:26 WIB

Studi Mobil Hybrid di Indonesia, Irit BBM Sampai 70%

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Plug-in Foto: Dadan Kuswaraharja Plug-in Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Pemerintah saat ini tengah menyiapkan regulasi terkait kendaraan elektrifikasi, termasuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid, sampai kendaraan listrik sepenuhnya. Sebelum dijual secara masif, berbagai pihak telah melakukan studi lebih lanjut terkait penggunaan kendaraan elektrifikasi tersebut.

Setidaknya enam perguruan tinggi di Indonesia dilibatkan untuk studi kendaraan elektrifikasi. Mereka membandingkan tiga jenis kendaraan, yakni kendaraan bermesin bensin biasa 1.800 cc, kendaraan hybrid yang juga pakai mesin 1.800 cc serta kendaraan plug-in hybrid (yang bisa dicolok untuk dicas) dengan mesin 1.800 cc juga.



"Kami bandingkan yang engine-nya sama. Jadi kami bisa bandingkan apple to apple. Jadi mesinnya 1.800 cc, kita dapatkan average fuel consumpsion," kata Kepala Program Kendaraan Elektrik Indonesia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi dalam acara Seminar Gaikindo Future Powertrain Technology Scenario di arena GIIAS 2019 di ICE, BSD, Tangerang, Kamis (25/7/2019).

Toyota Prius PHVToyota Prius PHV Foto: Dadan Kuswaraharja


Hasilnya, kendaraan bermesin bensin 1.800 cc rata-rata konsumsi bahan bakarnya hanya 11,1 km/liter. Sementara kendaraan hybrid naik menjadi 21,9 km/liter dan plug-in hybrid hingga 42 km/liter.

"Jadi ada peningkatan 50 persen sampai 70 persen," kata Agus.




Untuk kendaraan hybrid disebutkan lebih irit sampai 49 persen dibanding kendaraan konvensional. Sedangkan kendaraan plug-in hybrid bisa lebih irit 74 persen.

"Jadi kalau PHEV (asumsi jarak tempuh per hari) 50 km tadi bisa sebulan nggak isi bensin itu, karena cas-cas aja terus, jadi cukup. Pengujian ini dilakukan dengan kondisi Indonesia, pakai AC 23 derajat, penumpang kita atur, jadi betul-betul kita lakukan komparasi yang apple to apple, jadi bukan sekadar di dyno tapi real drive," ujar Agus.

Mitsubishi Outlander PHEVMitsubishi Outlander PHEV Foto: Rangga Rahardiansyah/detikOto


Namun, kalau melihat emisinya, dengan penggunaan elektrifikasi dan semakin irit bahan bakar tentunya emisi gas buang lebih sedikit. Namun, karena pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara, emisi tidak berkurang signifikan ketika menggunakan kendaraan elektrifikasi.

"Sehingga kalau pakai pure BEV (kendaraan listrik sepenuhnya) pun tetap ada polusi memang, meskipun lebih gampang kita kendalikan karena di sisi pembangkit listrik dibanding dengan jutaan di knalpot," kata Agus.



Menurut Agus, kendaraan hybrid menekan emisi CO2 sebesar 49 persen, plug-in hybrid 58 persen dan kendaraan listrik sepenuhnya ada pengurangan CO2 67 persen, tidak 100 persen karena masih ada emisi di pembangkit listrik yang masih menggunakan batu bara.

"Jadi kesimpulannya kalau dari sisi efisiensi bahan bakar saja, hybrid cukup, plug-in hyrbid lebih dari cukup. Tapi kalau dari sisi CO2 ya masih tidak signifikan, karena kita masih pakai batu bara," katanya.

Simak Video "Membeludak! Dibuka Perdana, GIIAS 2019 Diserbu Pengunjung"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com