Kalau Perlu Ada Kurikulum Safety Riding di Sekolah

Kalau Perlu Ada Kurikulum Safety Riding di Sekolah

- detikOto
Sabtu, 20 Mar 2010 19:02 WIB
Kalau Perlu Ada Kurikulum Safety Riding di Sekolah
Jakarta - Tingginya tingkat kecelakaan yang melibatkan remaja berumur di bawah 25 tahun menimbulkan banyak ke khawatiran. Pemerintah pun diminta untuk mengambil sikap.

Pemerintah diharapkan dapat mengajarkan dan mensosialisasikan masalah keamanan di jalan ke anak-anak dan remaja melalui berbagai cara salah satunya adalah membuatkan sebuah kurikulum khusus yang mengajarkan tenang safety riding.

"Pemerintah disini harus aktif dan kalau bisa embekali anak-anak dan remaja dengan edukasi road safety di sekolah-sekolah," ujar Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu ketika berbincang dengan detikOto beberapa waktu lalu.

Pembelajaran formal itu menurut Jusri sangatlah penting untuk segera dilakukan agar sedini mungkin anak-anak dan remaja tahu apa yang harus mereka perhatikan dan lakukan di jalan agar dapat mengurangi tingkat kecelakaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena hingga kini Jusri mengakui kalau kemampuan pengendarai kendaraan entah itu motor dan mobil hanya di landasi oleh pengalaman tanpa adanya pengetahuan
formal di kelas-kelas training.

"Itulah yang membuat mereka tidak bisa menjaga emosi dan kompetensi mengendarai kendaraan yang baik, benar dan aman pun juga termasuk minim," pungkasnya.

Dengan masuknya pengetahuan tentang keamanan di jalan di kurikulum sekolah, Jusri mengharapkan, kecelakaan-kecelakaan yang melibatkan penghuni jalan berusia di bawah 25 tahun dapat dikurangi.

"Di samping itu, keluarga di rumah juga tidak cepat-cepat memperbolehkan seorang anak membawa kendaraan sendiri. Beri tahu mereka risiko apa saja yang ada di jalan dan bagaimana menghindarinya agar mereka bisa lebih berhati-hati," jelas Jusri.

Tingginya tingkat kecelakaan di kalangan remaja semakin menjadi sorotan. Terlebih dalam beberapa bulan terakhir terjadi banyak sekali kecelakaan yang
melibatkan remaja.

Bahkan beberapa diantaranya mendapat sorotan yang cukup besar seperti tabrakan mobil dengan kereta di perlintasan kereta api (KA) di Medan, Sumatera Utara yang terjadi hari ini.

Kecelakaan itu terjadi karena pengemudi mobil Kijang Innova tersebut sedang asik menggunakan handphone. Nah Mobil Kijang Innova yang dikemudikan Egi Silvana,
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Atau sebuah Honda Jazz yang nyemplung ke kolam di Bundaran HI pada tiga hari lalu karena emosi yang tidak tertahan untuk melakukan kebut-kebutan liar, namun tanpa disertai skill balap yang mumpuni.

Untungnya tidak terdapat korban jiwa di kecelakaan itu dan semua penumpang Honda Jazz itu hanya mengalami luka-luka saja.

Dan yang paling naas adalah kecelakaan yang melibatkan 5 orang remaja dengan sebuah Toyota RAV4. Berdasarkan keterangan dari kepolisian, kendaraan itu melintas hingga ke kecepatan 120 km/jam dan langsung menikung tajam di Jl Rasuna Said.

"Keputusan, opini dan aksi ketika kita dewasa terpengaruh dari impresi dan masukan ketika kecil. Itulah mengapa pentingnya mengajari anak mengenai safety riding sejak kecil agar kecelakaan-kecelakaan seperti ini dapat semakin dikurangi," paparnya.

(syu/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads