Mulai Terancam Robot, Buruh Hyundai Ramai-ramai Mogok Kerja

Mulai Terancam Robot, Buruh Hyundai Ramai-ramai Mogok Kerja

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Rabu, 15 Jul 2026 17:28 WIB
Robot humanoid di pabrik otomotif.
Robot humanoid di pabrik otomotif. Foto: Doc. Carscoops
Jakarta -

Buruh Hyundai di Korea Selatan menggelar aksi mogok bergilir selama tiga hari setelah negosiasi soal upah dengan perusahaan menemui jalan buntu. Namun, tuntutan mereka bukan hanya soal gaji, melainkan juga kekhawatiran terhadap penggunaan robot humanoid di manufaktur.

Dikutip dari Carscoops, Rabu (15/7), para buruh menghentikan aktivitas dua jam lebih awal setiap Senin hingga Rabu. Di saat yang sama, serikat pekerja dan manajemen terkait masih melanjutkan perundingan untuk menghindari mogok yang lebih besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam negosiasi tersebut, serikat pekerja meminta kenaikan gaji pokok, bonus yang lebih besar, serta skema pembagian keuntungan berdasarkan laba tahunan perusahaan. Mereka menilai pekerja berhak menikmati keuntungan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Robot AIRobot AI Foto: The Percolator

Selain itu, serikat pekerja meminta Hyundai membuka pembahasan khusus sebelum robot mulai diterapkan di lini produksi. Mereka juga menginginkan jaminan pendapatan bagi pekerja yang terdampak otomatisasi, serta perpanjangan usia pensiun dari 60 tahun menjadi 65 tahun.

ADVERTISEMENT

Kekhawatiran itu muncul setelah Hyundai mengumumkan rencana menghadirkan robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics ke pabriknya di Amerika Serikat mulai 2028. Pada tahap awal, robot tersebut akan menangani pekerjaan logistik yang berulang, sebelum nantinya membantu proses perakitan kendaraan.

Hyundai bukan satu-satunya produsen mobil yang mengembangkan robot humanoid. Tesla, Mercedes-Benz, BMW, Toyota, Mitsubishi, BYD, hingga Chery juga mulai berinvestasi pada robot dan sistem otomatis berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Robot AIRobot AI Foto: The Percolator

Bagi Hyundai, aksi mogok ini berpotensi mengganggu produksi. Sekitar separuh kendaraan Hyundai di dunia diproduksi di Korea Selatan, sehingga penghentian produksi meski hanya berlangsung singkat dapat menyebabkan ribuan unit mobil gagal diproduksi dan kerugian bernilai ratusan juta dolar.

Meski begitu, manajemen Hyundai tetap bersikap tegas. Kepala Produksi Domestik Hyundai, Choi Yeong Il, mengatakan aksi mogok sebelumnya hanya menimbulkan kerugian produksi, hilangnya pendapatan pekerja, serta kritik dari pelanggan dan masyarakat. Hyundai juga memastikan tidak akan membayar upah selama pekerja mengikuti aksi mogok.



(sfn/dry)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads